Channel9.id, Jakarta. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatera Utara meningkatkan upaya penanganan kesehatan anak di kawasan yang dilanda banjir besar di Tapanuli Tengah, Sibolga, dan daerah sekitarnya. Melalui Posko Peduli Bencana, organisasi ini menurunkan tim dokter anak untuk membuka layanan kesehatan di lokasi pengungsian serta melakukan kunjungan langsung ke wilayah-wilayah yang masih sulit dijangkau.
Sejak Jumat (29/11), para relawan medis memberikan laporan berkala mengenai kondisi para pengungsi, ketersediaan tenaga kesehatan, dan hambatan distribusi logistik yang masih terjadi di beberapa titik.
Ketua IDAI Sumut, dr. Rizky Adriansyah, SpA, menjelaskan bahwa tim bergerak secara fleksibel dari satu lokasi ke lokasi lain untuk memastikan layanan dapat diberikan secara cepat. Ia menegaskan bahwa IDAI tetap bekerja bersama pemerintah daerah dan siap ditempatkan di posko resmi kapan pun dibutuhkan.
Tim IDAI di Sibolga yang dipimpin Dr. dr. Eka Airlangga, SpA, menyampaikan bahwa sejumlah wilayah terdampak belum dapat dipetakan secara menyeluruh karena terisolasi. Di GOR Pandan, Tapanuli Tengah, tercatat sekitar 660 orang mengungsi—terdiri dari anak-anak, bayi, ibu hamil, dan lanjut usia—namun jumlah keseluruhan pengungsi diperkirakan jauh lebih besar.
Menurut dr. Rizky, pendirian posko kesehatan di area yang terputus aksesnya belum memungkinkan karena tim gabungan TNI/Polri masih berusaha menembus lokasi-lokasi tersebut.
Meski demikian, stok obat-obatan masih memadai dan tambahan logistik sedang dikirimkan. IDAI juga telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi untuk memastikan suplai obat tetap tersedia. Opsi pengiriman bantuan menggunakan pesawat juga tengah disiapkan untuk daerah yang tidak dapat ditembus jalur darat.
Kondisi Sosial Semakin Mendesak
Di luar persoalan medis, tim juga menemukan kondisi sosial yang memburuk. Hampir seluruh apotek tidak dapat beroperasi akibat rendaman banjir dan akses transportasi yang putus. Pasokan makanan terganggu, sementara warga mulai tidak memiliki cadangan bahan pangan dan kehabisan uang tunai.
Situasi yang berkepanjangan membuat ketegangan meningkat. Aksi penjarahan terhadap sembako hingga ke sejumlah toko ritel seperti Indomaret dan Alfamidi di Tapanuli Tengah mulai dilaporkan.
Di tengah situasi krisis tersebut, IDAI Sumut memastikan bahwa layanan kesehatan untuk anak dan bayi tetap berjalan. Posko kesehatan di GOR Pandan masih menjadi pusat pelayanan yang dipantau secara intensif dan dianggap paling stabil hingga saat ini.
Koordinasi dengan pemerintah daerah, BNPB, Dinas Kesehatan, serta lembaga terkait terus dilakukan agar distribusi obat dan logistik dapat menjangkau wilayah yang masih belum tersentuh bantuan.
Dengan mengombinasikan layanan bergerak dan posko yang sudah beroperasi, IDAI berharap kondisi anak-anak tetap terjaga dan risiko penyakit yang muncul akibat banjir dapat diminimalkan.





