Channel9.id-Jakarta. Membintangi sebuah film tentu perlu totalitas untuk berakting sebaik mungkin. Demikian dengan aktris Nirina Zubir yang menghadapi tantangan untuk menjalani empat jam tata rias dan perubahan fisik yang drastis demi memerankan karakter Ibu Ristiana dalam tiga fase usia berbeda dalam film ‘Jangan Buang Ibu’. Sebuah film terbaru garapan sutradara perempuan Indonesia Hadrah Daeng Ratu.
Nirina menghidupkan tokoh Ibu Ristiana mulai dari masa produktif usia 30-an tahun, fase paruh baya 50-an tahun, hingga mencapai usia senja 70 tahun.
“Tiga setengah, empat jam bahkan (make up) berkaca saja tuh masih kaget menjadi 70 tahun tuh seperti apa,” ujar Nirina saat peluncuran poster dan temu pemeran film ‘Jangan Buang Ibu’ di kawasan Senayan, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Totalitas Nirina dalam menghadapi tantangan tata rias (make up) ini mengharuskannya datang jauh lebih awal daripada pemain lainnya di lokasi syuting.
Nirina mengaku baru pertama kali memahami arti sebenarnya dari istilah “pre-call” (panggilan awal) di mana kru harus merias dirinya empat jam lebih awal dari sebelum para pemain lain datang dan pengambilan gambar dimulai.
Dalam syuting film tersebut, Nirina juga menjadi orang terakhir yang meninggalkan lokasi demi membersihkan lapisan riasan prostetik yang tebal setelah kru lain selesai bekerja.
Proses syuting menjadi semakin berat bagi Nirina karena ia harus mengenakan riasan tersebut di bawah kondisi cuaca yang ekstrem.
Sutradara Hadrah Daeng Ratu memuji kesabaran sang aktris yang tetap konsisten menjaga emosi karakter Ibu Ristiana meski dalam kondisi fisik yang tidak nyaman.
Film ‘Jangan Buang Ibu’ yang diadaptasi dari novel berjudul ‘Jangan Buang Ibu, Nak!’ karya Wahyu Dera Priangga ini berfokus pada sosok Ristiana, seorang ibu tunggal yang harus membesarkan tiga anaknya seorang diri setelah kepergian sang suami. Dalam keterbatasan ekonomi dan kondisi hidup yang tidak mudah, Ristiana menjalani perannya sebagai ibu dengan penuh pengorbanan. Ia bekerja keras, menahan lelah, dan menomorsatukan masa depan anak-anaknya di atas kebahagiaannya sendiri.
Namun, seiring waktu berlalu dan anak-anaknya tumbuh dewasa, kehidupan Ristiana justru berbalik arah. Di masa tuanya, ketika fisik mulai melemah dan ia membutuhkan perhatian, Ristiana malah diantar ke sebuah panti jompo oleh anak-anak kandungnya sendiri. Keputusan tersebut menjadi titik balik emosional dalam film ini.
Di tempat tersebut, Ristiana harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya dianggap sebagai beban. Hari-harinya di panti diisi dengan rasa sepi, penyesalan, dan pertanyaan yang terus menghantui, di mana letak kesalahannya sebagai seorang ibu?
Alih-alih menampilkan konflik besar yang berisik, Jangan Buang Ibu memilih pendekatan emosional yang lebih sunyi dan menyayat. Film ini menyoroti luka batin seorang ibu yang tidak pernah benar-benar meminta balasan atas pengorbanannya, namun tetap berharap dicintai oleh anak-anaknya.
Ristiana digambarkan sebagai sosok yang pasrah, tetapi bukan tanpa perasaan. Dalam kesendiriannya, ia mengingat kembali masa lalu, saat ia rela kehilangan banyak hal demi memastikan anak-anaknya tumbuh dengan layak. Ironisnya, justru di masa rapuh itulah ia ditinggalkan.
Film ini juga memperlihatkan dinamika anak-anak Ristiana yang masing-masing memiliki alasan, ego, dan pembenaran sendiri atas keputusan mereka. Tanpa menghakimi secara gamblang, cerita mencoba mengajak penonton memahami kompleksitas hubungan keluarga, di mana cinta sering kali berbenturan dengan kesibukan, ambisi, dan ketidakdewasaan emosional.
Dalam film ‘Jangan Buang Ibu’, Nirina beradu akting dengan Refal Hady, Dwi Sasono, Amanda Manopo dan Erika Carlina.
Film produksi Leo Pictures diijadwalkan tayang pada masa Liburan 2026. Namun, produser film ‘Jangan Buang Ibu’ Agung Saputra belum merinci tanggal pasti filmnya ditayangkan di bioskop.
Nirina berharap tanggal tayang film tidak mepet dengan Hari Natal (Holy Day, 25/12) supaya jangan terlalu lama ditunggu-tunggu kehadirannya oleh penonton bioskop Indonesia.
Kontributor: Akhmad Sekhu





