Oleh: Mukti Ali Qusyairi
Channel9.id – Jakarta. Perang dingin antara Iran dan AMIS (Amerika Serikat dan Israel) dimulai sejak Ayatollah Khumaeni berhasil menumbangkan rezim boneka AMIS Raja Sah Reza Pahlevi pada 1979. Saat ini perang dingin itu sudah berakhir menjelma menjadi perang fisik, perang panas, berkobar dan membakar.
Ada banyak pengamat yang menyuguhkan analisa geopolitik, analisa perang, perdamaian, dan analisa ekonomi. Tetapi saya ingin melihat sisi lain dari Iran.
Tak Ter-Arab-kan
Ada titik persamaan antara Iran dan Nusantara Indonesia ialah penduduk mayoritas terislamkan tetapi tidak ter-arab-kan. Iran sanggup mempertahkan bahasa ibunya yaitu persia. Sebagaimana Indonesia mampu mempertahankan dengan beragam bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
Kalau kita lihat negara-negara Timur Tengah di masa lalu pra Islam ada cukup banyak bahasa yang berkembang dan menjadi bahasa ibu. Misalkan Mesir memiliki bahasa Koptik dan tulisan Hiroglif. Negara lain, seperti Suriah dan negara-negara lain di Timur Tengah memiliki Bahasa Suryani, bahasa Aramaik, Akadiah, Ibrani, dan Mada. Bahasa Yunani pun berkembang di negara-negara Timur Tengah kuno. Tetapi pasca Islam semua negara-negara Timur Tengah itu selain terislamisasikan juga secara bahasa pada saat yang sama terarabisasikan. Sehingga bahasa-bahasa yang beragam dan kaya itu hampir punah dan dikalahkan oleh dominasi bahasa Arab.
Darmesteter dalam bukunya Etudes Iraniennes yang diarabkan dengan judul Dirasat Haula Iran menyatakan bahwa ada tiga fase perkembangan bahasa Persia. Pertama, fase Dinasti Kekaisaran Akhemeniyah (550 SM.-330 SM.). Fase ini kosa kata bahasa Persia masih kurang lebih dari 400 kalimat yang berbeda-beda. Ini disebut bahasa Persia kuno.
Tercatat Kekaisaran Akhemeniyah bertahan sebagai penguasa Persia sampai sembilan generasi atau raja. Yaitu Achaemenes, Teispes atau Chaish Pich, Cambyses atau Kambujiya, Cyrus atau Kurush, Cambyses, Ariaramnes atau Ariyaramna, Arsames, Hystaspes, Darius, dan Xerxes.
Kekaisaran Akhemeniyah jatuh pada saat dipegang oleh raja Darus akhir yang bernama Xerxes ditaklukkan oleh Alexander Agung pada 330 SM.
Alexander Agung yang dalam sejarah disebutkan sebagai murid Aristoteles sang filsuf Yunani kuno menetapkan kebijakan bahasa Yunani sebagai bahasa resmi di wilayah Persia yang sebelumnya dikuasai Akhemeniyah itu.
Meski bahasa Yunani dominasi di ruang publik. Bahasa Persia hidup di ruang-ruang privasi. Bahasa Persia tidak mati.
Kedua, fase Dinasti Sasanian (226 – 652 M.). Fase ini bahasa Persia terjadi perkembangan. Agama resminya adalah agama Zorowaster. Mulai banyak kosa kata terkait dengan doktrin dan filsafat keagamaan Zorowaster. Pada saat itu juga sudah masuk kitab Taurat, kitab-kitab suci para Nabi, dan Zabur yang ditulis dan terjemah ke bahasa Persia. Pertambangan pun sedang maju sehingga muncul kosa kata Persia untuk batu mulia, cincin, dan aktivitas kerja. Bahasa Persia saat itu pun bersinggungan dengan tulisan Bahlawiyah/Pahlavi.
Ketiga, fase Islamisasi bangsa Persia. Fase ini bangsa Persia berinteraksi dengan bangsa Arab yang berhasil melakukan Islamisasi mereka sembari mensosialisasikan bahasa Arab. Bahasa Persia pada saat yang sama terjadi dinamisasi lantaran bergumul dengan bahasa Arab sehingga saling memperkaya cakrawala linguistik, tetapi pada saat yang sama bahasa Persia mulai terjadi privatisasi karena bahasa penguasa adalah bahasa Arab. Meski demikian, bahasa Persia tetap eksis dan bisa bersanding dengan bahasa Arab.
Edward G. Browne sepakat dengan Dermesteter, bahwa evolusi bahasa Persia terjadi tiga fase itu. Yaitu bahasa Persia kuno pada masa Kekaisaran Akhemeniyah, bahasa Persia pertengahan pada masa Kekaisaran Sasanian, dan bahasa Persia modern pada masa Islam hingga saat ini. Hampir mirip dengan evolusi bahasa Inggris, yaitu bahasa Inggris kuno pada masa Anglo Sakson, bahasa Inggris pertengahan, dan Inggris modern.
Tetapi menurut Theodore Noldek bahwa sebelum masa Kekaisaran Akhemeniyah, ada bahasa Mada atau disebut juga bahasa Media/Medes sebagai bahasa Persia kuno sudah digunakan masyarakat Persia. Bahasa Mada/Media/Medes ini adalah bahasa asli dan yang paling purba dari bahasa Persia. Sebagian pendapat mengatakan bahwa bahasa Mada memiliki kedekatan dan kesamaan dengan bahasa Persia. Karena memang asal dari bahasa Persia adalah bahasa Mada.
Menurut Edward G. Browne dalam bukunya A Literary History of Persia yang diterjemah oleh Ahmad Kamaluddin Hilmy dengan judul Tarikh al-Adab fi Iran dan diterjemahkan ke bahasa Persia oleh Ali Basya Shalih menyatakan bahwa sekurang-kurangnya dua kali dalam sejarah bahasa Persia pernah dicoba digerus dan dikalahkan oleh dua kekuatan besar yang menguasai negeri Persia yang saat ini Iran.
Pertama, Alexander Agung menguasai Persia dan menggeser bahasa Persia dengan bahasa Yunani. Alexander menetapkan bahasa Yunani sebagai bahasa resmi percakapan bangsa Persia. Memang di ruang publik bahasa Yunani cukup dominan lantaran kehendak penguasa. Tetapi bahasa Persia masih hidup di ruang-ruang privasi, di rumah-rumah, di ruang-ruang yang tak tersentuh oleh kekuasaan.
Kedua, di saat Islamisasi bangsa Persia dari Arab. Penguasa muslim Arab berusaha mensosialisasikan bahasa Arab dan mencoba menggeser dominasi bahasa Persia. Tetapi orang-orang Persia menerima bahasa Arab sekaligus mempertahankan bahasa Persia.
Bahkan telah lahir dari bangsa Persia para ahli bahasa Arab dan ikut berkontribusi dalam memperbaharui bahasa Arab menjadi bahasa Arab yang kita nikmati saat ini.
Di antaranya Khalil bin Ahmad al-Farahidi adalah seorang Persia yang menemukan bentuk-bentuk huruf Hijaiyah dan titik dalam huruf Hijaiyah Ba, Ta, Tsa, Jim, Kha, Dzal, Za, Syin, Dhad, dan seterusnya. Juga harakat fathah, kasrah, dhammah, sukun. Dengan tanda baca yang ditemukan Khalil bin Ahmad itu, umat muslim dari luar Arab bisa lebih mudah membaca tulisan Arab. Ijtihad linguistik dan tulisan Arab Khalil bin Ahmad itu memang tujuan awalnya untuk mempermudah orang-orang ‘ajam (non Arab), seperti bangsa Persia, dalam membaca tulisan Arab yang kala itu sedang digalakkan oleh penguasa muslim yang berkuasa.
Kontribusi Khalil bin Ahmad ini pada akhirnya mempermudah bagi seluruh umat muslim baik Arab maupun Non Arab dan bagi peradaban manusia. Yang berkepentingan dengan bahasa Arab bukan hanya umat muslim tetapi juga seluruh umat manusia sedunia. Karena bahasa Arab salah satu bahasa komunikasi dalam berbagai aspek.
Khalil bin Ahmad memiliki murid yang juga dari bangsa Persia yang menjadi pakar ilmu Nahwu (Gramatika Arab) terkemuka yaitu Imam Sibawaihi. Imam Sibawaihi terkenal dengan kitabnya yang berjudul al-Kitab yang sangat tebal dan komprehensif berisi teori-teori ilmu Nahwu (Gramatika Arab).
Syahdan Khalil bin Ahmad juga ahli ilmu Nahwu. Tetapi setelah muridnya yaitu Imam Sibawaihi dikenal luas sebagai ahli ilmu Nahwu, pamor Khalil bin Ahmad sebagai ahli ilmu Nahwu meredup. Lalu Khalil pergi ke pantai mencari inspirasi dan merenung. Melihat deru ombak yang bersuara gemuruh dan bernada, Khalil menemukan ide menulis ilmu ‘arud sebuah ilmu yang menjelaskan tentang teori-teori dan rumus-rumus cara membuat nadzham yaitu syair dan puisi bahasa Arab yang ditulis dengan bait yang terbelah dua dalam satu bait, mementingkan irama dan rima agar dapat didendangkan dengan merdu dan nikmat dibaca serta didengarkan. Dengan ilmu ‘arud yang ditemukannya itu, nama Khalil bin Ahmad kembali bersinar dan magnet pada masanya.
Dari ilmu ‘arud itu akhirnya para ulama dari berbagai disiplin ilmu keislaman khususnya banyak melahirkan nadzhaman. Karena nadzham itu mempermudah bagi para pelajar dalam menghafal dan memahami pelajaran. Sebab sambil belajar sembari berdendang dan bernada. Selain keindahan sastra karena mementingkan rima, nadzham juga mementingkan indahnya nada suara.
Nahwu atau amatika Arab bermula dari Abu Aswad ad-Dualiy yang belajar pada Sayidina Ali bin Abi Thalib. Itu sepenggal kisah akar sejarah gramtika Arab dari pemilik bahasanya sendiri. Tetapi dalam perkembangannya teori gramatika Arab dinamis, berkembang dan diperdebatkan di kalangan bangsa Persia yang telah memeluk Islam.
Ada dua kelompok yang sering berbeda pandangan dan berdebat tentang teori gramatika Arab, Nahwu, yaitu kelompok yang berdomisili di Bashrah yang dikenal dengan Bashriyyin dan kelompok yang berdomisili di Kufah yang dikenal dengan Kufiyyin. Bashrah dan Kufah kala itu adalah wilayah bangsa Persia. Bashriyyin dan Kufiyyin adalah masyarakat Persia yang diakui dalam sejarah sebagai kelompok garda depan ilmu Nahwu, gramatika Arab. Perdebatan kedua kelompok ini tercatat dalam hampir semua kitab Nahwu, seperti Ibnu ‘Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik, Hasyiyah Ibnu Hamdun, Hasyiyah Hudhari, Asymuni, dan yang lainnya.
Ada kelompok lain yang disebut kelompok Akaluniy Baraghits yang juga dari bangsa Persia, tetapi pandangan mereka dianggap lemah sebab keluar jauh dari kaidah pada umumnya. Disebut Akaluny Baraghits yang artinya Nyamuk-Nyamuk Menggigitku, lantaran dianggap Pandangan-pandangan sebagai pandangan masyarakat pinggiran yang dianggap kurang baik dalam gramatika dan tata bahasa Arabnya.
Bahasa Persia sejatinya sama tuanya dengan bahasa Arab. Sehingga keduanya sudah cukup lama terjadi tabadul tsaqafi (pertukaran kebudayaan). Sehingga tidak sedikit bahasa Arab serapan dari bahasa Persia. Sebaliknya cukup banyak bahasa Persia serapan dari bahasa Arab. Keduanya telah lama saling mempengaruhi. Ini terjadi ribuan tahun yang lalu.
Ketika bahasa Arab dirasa sangat mendominasi bangsa Persia, muncul seorang sastrawan Persia Firdausi dengan menuliskan 50.000 bait puisi epik dan sastra berbahasa Persia berjudul Shahnameh untuk mengembalikan kesadaran bahasa Persia pada orang-orang Persia yang menurutnya sudah terlena dengan bahasa Arab dan nyaris meninggalkan bahasa ibunya sendiri yaitu Persia.
Shahnameh karya Firdausi ini termasuk salah satu sastra klasik terpanjang di dunia. Meski masih di bawah I La Galigo sastra Nusantara dari Sulawesi Selatan. Shahnameh berisi 50.000 bait. Sedangkan I La Galigo berisi 300.000 bait. I La Galigo termasuk sastra paling panjang di dunia mengalahkan Mahabharata India dan Shahnameh Persia.
Shahnameh adalah tonggak nasionalisme Persia. Sebab bahasa merupakan elemen paling penting bagi kesadaran nasionalisme sebuah bangsa. Pasis segaris dengan itu, Sumpah Pemuda Indonesia yang diabadikan oleh L. Manik dalam lagu “satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa
Persia Sebagai Bahasa Sastra dan Ilmiyah
Para ulama, pemikir, sufi, intelektual dan sastrawan muslim Persia banyak yang menulis buku ilmiah dan sastra dengan bahasa Persia.
Maulana Jalaluddin al-Rumi sufi besar yang berpengaruh di Timur dan Barat menulis semua karyanya dengan bahasa Persia. Yaitu Matsnawi 5 jilid, Diwan Syamsuddin at-Tibriziy 2 jilid, Fihi Ma Fihi, Ruba’iyat, Maktubat, dan al-Arba’un. Saya mengoleksi dalam versi terjemahan dari Persia ke Arab. Matsnawi dan Diwan Syamsuddin at-Tibrizi diarabkan oleh Ibrahim ad-Dasuqiy Syatta, Fihi Ma Fihi diarabkan oleh Muhammad ‘Alauddin Manshur.
Rumi menulis tentang teori-teori dan pengalaman spiritual serta cinta Ilahinya yang diungkapkan dengan bahasa sastra yang indah, mendalam, dan universal dengan menggunakan bahasa Persia. Dalam karya-karya Rumi menunjukkan betapa bahasa Persia sangat kaya kosakata sehingga bisa mengungkapkan pengalaman cinta dan rindu Ilahiy yang paling dalam, intim, intens dan luas.
Sufi besar Fariduddin al-‘Atthar menulis teori-teori sufisme dan spiritualitas Islam dengan bahasa Persia. Di antaranya kitab Ilahiy Nama dan Mushibat Nama. Al-‘Atthar menuliskan eksperimentasi spiritualnya dengan narasi sastra, bukan narasi normatif.
Ahmad al-Ghazali–adik kandung Imam Abu Hamid al-Ghazali penulis kitab Ihya Ulumuddin–menulis tentang ‘isyq (kasmaran) kepada Allah dengan bahasa Persia dalam kitab al-Sawanikh. Konon Ahmad al-Ghazali lebih dulu masuk dan menggeluti ilmu tasawuf daripada Imam al-Ghazali sebagai kakaknya.
Karena memang Ahmad al-Ghazali dan Imam al-Ghazali adalah ulama yang bahasa ibunya adalah bahasa Persia. Kuburan Imam al-Ghazali berada di wilayah Iran. Meski terkenal kitab-kitabnya berbahasa Arab, Imam al-Ghazali memiliki kitab karyanya yang semula ditulis dengan menggunakan bahasa Persia di antaranya kitab Kimiyatu as-Sa’adah, Ayyuha al-Walad, Nashihat al-Muluk, dan Zad al-Akhirat. Belakangan kitab-kitab itu diarabkan.
Sa’di al-Syairazi dan Hafidz al-Syairazi yang keduanya dari daerah Syiraz wilayah Persia terkenal sebagai penyair Persia. Saya mengoleksi puisi-puisi dan syair Persia Sa’di versi terjemahan Arab oleh Muhammad Alauddin Manshur setebal 500 halaman. Juga puisi-puisi Hafidz 2 jilid.
Selain itu ada Nuruddin Abdurrahman Jami yang dikenal dengan Molla Cami adalah seorang penyair, sastrawan dan sufi besar yang menulis dengan bahasa Persia dan Arab. Di antara karya sastranya adalah Layla wa Majnun, Yusuf wa Zulaikha, Haft Auwrang. Karya sufismenya yaitu Syarah atas kitab Fushusus al-Hikam Ibnu Arabi, al-Dzurrah al-Fakhirah, dan yang lainnya.
Di sini saya sebutkan satu nama saja dari penyair modern yang menuliskan syair-syairnya dengan menggunakan bahasa Persia yaitu Sir Mohammad Iqbal.
Ada beberapa karya sastra dan syair Sir Mohammad Iqbal berbahasa Persia di antaranya yaitu Javid Nama, Asror-e-Khudi, Rumuz-e-Bekhudi, Payam-e-Mashriq, dan Zabur-e-Adam.
Di antara sastrawan Persia yang dikenal dunia adalah Omar Khayam, Nezami, dan Abu Abdullah Rudaki yang dianggap bapak sastrawan Persia sebab orang pertama menulis sastra dengan bahasa Persia sehingga menjadi preseden bagi para penulis berikutnya.
Masih banyak lagi ulama dan sastrawan klasik Persia yang menulis sastra, filsafat, sufisme, dan agama dengan menggunakan bahasa Persia yang tidak bisa disebutkan satu persatu di sini.
Karena itu, Persia adalah Persia, bukan Arab. Iran adalah Persia, bukan Arab.
Penulis adalah penulis buku Islam Mazhab Cinta & buku Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali





