Menhan lantik DPN
Nasional

Noe Letto Masuk DPN Kemhan, Wajah Baru Kolaborasi Lintas Sektor

Channel9.id, Jakarta. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia melantik 12 tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN), yang menunjukkan langkah membuka ruang kontribusi lintas bidang dalam kebijakan pertahanan. Salah satu nama yang menarik perhatian adalah Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau Noe, vokalis grup band Letto sekaligus putra budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).

Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menjelaskan bahwa kehadiran tenaga ahli dari beragam latar belakang bukan sekadar simbolik. Mereka akan memberikan kajian strategis, masukan, dan rekomendasi yang memperkaya sudut pandang Dewan Pertahanan Nasional—mulai dari aspek sosial, kebudayaan, hingga komunikasi strategis.

“Tenaga ahli menyampaikan rekomendasi melalui mekanisme forum yang telah diatur dalam struktur Dewan Pertahanan Nasional,” ujar Rico kepada wartawan di Jakarta, Minggu.

Selain Noe, terdapat pula nama dari kalangan profesional lain, termasuk Frank Alexander Hutapea, putra sulung pengacara Hotman Paris Hutapea. Keberagaman latar belakang ini dinilai memberikan perspektif non-militer yang relevan bagi model pertahanan yang semakin terhubung dengan isu publik, informasi, dan dinamika sosial.

Profil Singkat Noe Letto

Meski dikenal sebagai musisi, Noe memiliki riwayat pendidikan dan minat intelektual yang cukup luas. Ia menempuh studi dasar di Lampung sebelum melanjutkan pendidikan menengah di Yogyakarta dan kuliah di University of Alberta, Kanada.

Identitas dan Pendidikan:

Nama Lengkap: Sabrang Mowo Damar Panuluh

Lahir: 10 Juni 1979

Pendidikan:

SD 1 Yosomulyo

SMP Xaverius Metro, Lampung

SMA Negeri 7 Yogyakarta

University of Alberta, Kanada

Di dunia musik, Noe mendirikan Letto pada 2004 dan merilis beberapa album yang cukup populer, seperti Truth, Cry, and Lie (2005) dan Lethologica (2009).

Keterlibatan tokoh non-militer dalam ruang kebijakan pertahanan bukan hal baru secara global. Banyak negara mengundang pakar dari ranah: komunikasi publik, budaya dan identitas, analisis sosial, hingga strategi informasi, untuk merespons tantangan pertahanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  63  =  64