Pertamina
Ekbis

Pertamina Satukan Patra Niaga, KPI, dan PIS dalam Subholding Downstream

Channel9.id, Jakarta. PT Pertamina (Persero) secara resmi menyatukan tiga subholding bisnis hilirnya, yaitu PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional, dan PT Pertamina International Shipping. Ketiganya dilebur ke dalam satu entitas baru bernama Subholding Downstream, dengan Pertamina Patra Niaga (PPN) bertindak sebagai perusahaan penerima penggabungan.

Manajemen Pertamina menjelaskan, proses konsolidasi ini telah melalui kajian menyeluruh, termasuk perbandingan praktik terbaik (benchmarking) dengan sejumlah perusahaan migas global yang memiliki model bisnis serupa.

Langkah integrasi tersebut diharapkan membentuk ekosistem usaha hilir yang lebih terpadu, mulai dari kegiatan pengolahan di kilang, distribusi energi ke berbagai daerah, hingga pemasaran produk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan rantai pasok yang terhubung, perusahaan menargetkan pasokan energi yang lebih terjamin, jangkauan layanan yang lebih luas, produk yang ramah bagi konsumen dan lingkungan, serta harga yang tetap kompetitif.

Tak hanya itu, penggabungan ini juga disebut akan mempercepat agenda transisi energi melalui pengembangan portofolio bahan bakar rendah karbon yang lebih berkelanjutan.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyampaikan bahwa integrasi bertujuan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat ketahanan pasokan energi nasional dan daya saing perusahaan. Menurutnya, sistem yang terpusat memungkinkan koordinasi lintas fungsi menjadi lebih cepat, proses pengambilan keputusan lebih efektif, serta pengelolaan investasi lebih optimal.

Ia menilai, di tengah dinamika geopolitik, tuntutan dekarbonisasi, dan persaingan global, Pertamina perlu bergerak lebih adaptif dan solid. Dengan menyatukan fungsi kilang, distribusi, logistik, dan pemasaran dalam satu kesatuan sistem, perusahaan dapat memangkas duplikasi proses, mempercepat pelayanan, serta memastikan ketersediaan energi secara merata dari Sabang hingga Merauke.

Melalui Subholding Downstream, Pertamina menargetkan transformasi bisnis yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat. Simon memastikan bahwa proses integrasi tidak akan mengganggu operasional maupun pelayanan kepada pelanggan, mitra, dan pekerja. Sebaliknya, kolaborasi antardivisi diharapkan semakin kuat sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam memperkuat kemandirian energi nasional. Integrasi bisnis hilir yang berlaku efektif sejak 1 Februari 2026 disebutnya bukan sekadar restrukturisasi organisasi, melainkan penguatan fondasi agar Pertamina semakin kokoh sebagai tulang punggung penyediaan energi nasional. Dengan proses bisnis yang lebih efisien dan terkoordinasi, layanan energi diharapkan menjadi semakin optimal dan tangguh menghadapi tantangan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  6  =  9