Channel9.id – Jakarta. Ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif di tengah dinamika perdagangan dan geopolitik global sepanjang akhir 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 mencapai 5,39 persen secara tahunan (year-on-year), menjadi yang tertinggi sejak pandemi.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan, secara keseluruhan, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen secara kumulatif. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2024 yang tercatat sebesar 5,03 persen.
BPS menyebut konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi pada akhir 2025. Kondisi tersebut menunjukkan daya beli rumah tangga relatif terjaga di tengah ketidakpastian global.
”Ekonomi Indonesia pada triwulan-IV 2025 tumbuh sebesar 5,39 persen (y-on-y), salah satunya didorong oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga,” kata Amalia dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Konsumsi rumah tangga pada triwulan IV 2025 terdorong meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode libur Natal dan Tahun Baru. Kebijakan pengendalian inflasi serta paket stimulus pemerintah turut menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi.
Sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan tren positif, antara lain peningkatan transaksi e-retail dan marketplace. Penggunaan uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit juga tercatat meningkat.
”Jumlah perjalanan wisatawan nusantara meningkat, tumbuh sebesar 13,42 persen (y-on-y) pada triwulan-IV 2025, diikuti peningkatan jumlah penumpang di beberapa moda transportasi seperti angkutan rel dan angkutan laut,” jelas Amalia.
Selain konsumsi, pertumbuhan ekonomi juga didukung investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,12 persen. Kenaikan ini didorong peningkatan investasi pada bangunan, mesin, dan peralatan.
Konsumsi pemerintah pada triwulan IV 2025 tumbuh 4,55 persen. Dari sisi eksternal, ekspor barang dan jasa tumbuh 3,25 persen secara tahunan.
Pertumbuhan ekspor terutama ditopang komoditas nonmigas seperti minyak nabati, besi dan baja, mesin dan peralatan listrik, serta kendaraan. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara juga mendorong ekspor jasa.
Dari sisi lapangan usaha, lima sektor dengan kontribusi terbesar terhadap PDB triwulan IV 2025 adalah industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan. Industri pengolahan mencatat kontribusi tertinggi sebesar 19,20 persen.
Beberapa sektor mencatat pertumbuhan tinggi, di antaranya transportasi dan pergudangan, informasi dan komunikasi, serta jasa keuangan. Sektor-sektor ini tumbuh seiring meningkatnya mobilitas dan aktivitas ekonomi digital.
Industri pengolahan pada triwulan IV 2025 tumbuh 5,40 persen, didorong oleh industri makanan dan minuman, logam dasar, serta kimia dan farmasi. Peningkatan permintaan domestik dan global menjadi faktor utama pertumbuhan sektor ini.
“Pertumbuhan sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Amalia.
Sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, tumbuh 6,07 persen. Pertumbuhan ini sejalan dengan meningkatnya produksi dalam negeri, khususnya produk pertanian dan industri pengolahan.
Sektor informasi dan komunikasi tumbuh 8,09 persen akibat meningkatnya lalu lintas data dan transaksi digital. Sementara itu, sektor pertanian tumbuh 5,14 persen seiring meningkatnya permintaan domestik.
HT





