Denny Siregar Patahkan Stigma Lewat Film ‘Tanah Runtuh’ dengan Anak Down Syndrome
Lifestyle & Sport

Denny Siregar Patahkan Stigma Lewat Film ‘Tanah Runtuh’ dengan Anak Down Syndrome

Channel9.id-Jakarta. Memproduksi sebuah film tentu ada tantangan tersendiri. Demikian dengan produser Denny Siregar yang kembali menyita perhatian lewat proyek layar lebar terbarunya yang berjudul ‘Tanah Runtuh’. Lewat rumah produksinya, Denny Siregar Production, ia mengambil langkah yang terbilang berani, dengan menjadikan anak berkebutuhan khusus sebagai sentral cerita.

Sosok anak dengan down syndrome didapuk mendapat porsi penting sebagai tokoh utama yang terlibat langsung dalam dinamika cerita film ini. Keputusan sang produser ini menjadi sebuah terobosan segar di industri perfilman Indonesia yang selama ini masih jarang menempatkan mereka dalam sorotan utama.

Melalui Tanah Runtuh, Denny ingin mematahkan stigma bahwa anak dengan Down syndrome hanya bisa digambarkan sebagai beban atau sekadar objek belas kasihan semata. Ia justru menampilkan karakter tersebut sebagai sosok yang kuat, relevan, dan memiliki peran penting dalam membangun emosi penonton.

Film ‘Tanah Runtuh’ sendiri mengangkat narasi yang kuat tentang hubungan persaudaraan dan keluarga yang sejalan dengan tagar kampanye #thebrotherhood. Cerita dibalut dengan latar situasi kehilangan dan kondisi hidup yang tidak mudah, namun tetap menonjolkan sisi ketahanan batin manusia.

Di film ini, Denny kembali menggandeng sutradara Rudi Soedjarwo untuk menghadirkan drama dengan nuansa yang jauh lebih sunyi, intim, namun sangat emosional. Kolaborasi ini diharapkan dapat mengulang kesuksesan film ‘Sayap-Sayap Patah’ yang meledak pada tahun 2022 lalu.

Fokus utama narasi sebenarnya terletak pada perjalanan dua orang anak kecil yang harus bertahan hidup di tengah himpitan keterbatasan lingkungan. Penonton akan diajak menyelami dunia yang tampak rapuh, namun menyimpan secercah harapan luar biasa melalui sudut pandang polos anak-anak tersebut.

Dalam materi promosi awal, terlihat potongan visual yang ditutup dengan gambar dua tangan saling berpegangan di atas kasur sebagai simbol ikatan emosional. Pihak rumah produksi memberikan sedikit teka-teki mengenai jalan cerita melalui keterangan yang diunggah di media sosial resmi mereka.

“Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Tak ada yang benar-benar terlihat jelas. Tapi sesuatu sedang terjadi,” tulis akun @dennysiregarproduction mengiringi unggahan tersebut.

Unggahan itu langsung memancing rasa penasaran publik yang menantikan penyatuan kembali kreativitas Denny dan Rudi dalam satu semesta film. Respons positif pun berdatangan dari warganet, salah satunya dari pengikut yang antusias karena daerahnya dijadikan lokasi syuting.

“Ga sabar hihi syutingnya di kampungku,” tulis salah satu netizen di kolom komentar.

Secara keseluruhan, film Tanah Runtuh menghindari pendekatan heroisme dan menonjolkan emosi hangat yang dekat dengan pengalaman sehari-hari. Film ini diproyeksikan menjadi pengingat bahwa harapan harus tetap dipertahankan, meski “rumah” sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Kontributor: Akhmad Sekhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  51  =  55