Nasional

Alumni LPDP Bangga Anak WNA, Wamen Stella: Beasiswa Negara Itu Utang Budi

Channel9.id – Jakarta. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamedikti Saintek) Stella Christie merespons pernyataan seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang membanggakan anaknya karena memiliki kewarganegaraan asing.

Stella menegaskan, beasiswa dari negara merupakan utang budi bagi setiap penerimanya.

“Saya pernah dikecam netizen ketika mengimbau penerima beasiswa S1 luar negeri Kemdiktisaintek bahwa beasiswa adalah utang. Namun kenyataannya memang demikian: setiap beasiswa dari negara adalah utang budi,” kata Stella, dikutip dari detikcom, Senin (23/2/2026).

Menurutnya, polemik yang muncul belakangan ini mencerminkan kegagalan moral pada tahap awal kehidupan. Ia menilai persoalan ini muncul karena penerima memandang beasiswa sekadar fasilitas, bukan sebagai amanah.

Kendati demikian, Stella menyebut memperketat sistem beasiswa melalui lapisan demi lapisan pembatasan tak serta merta menyelesaikan permasalahan.

“Pembatasan yang berlebihan justru berpotensi menumbuhkan sikap sinis: penerima beasiswa menjadi kurang bersyukur kepada negara dan sibuk mencari celah untuk menghindari kewajiban,” kata Stella.

“Yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan—memberi ruang bagi para penerima beasiswa untuk menemukan caranya sendiri dalam memberi manfaat bagi bangsa,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Stella menilai, rasa terima kasih kepada kepada Indonesia tidak selalu harus diwujudkan dengan segera pulang ke Tanah Air. Dalam beberapa kasus, kata dia, bertahan lebih lama di luar negeri hingga mencapai posisi berpengaruh justru membawa manfaat yang lebih luas bagi Indonesia.

Ia mencontohkan sejumlah warga India yang menduduki puncak di Silicon Valley, pusat perusahaan teknologi di Amerika Serikat, sehingga mampu menciptakan aliran investasi serta lapangan kerja bagi negaranya.

“Selama bertahun-tahun berada di institusi terkemuka di Amerika Serikat dan Tiongkok, saya berupaya tetap berkontribusi bagi Indonesia: membimbing mahasiswa Indonesia di universitas AS dan Tiongkok, berbicara di komunitas di Indonesia, serta menjembatani kerja sama antara institusi Indonesia dan lembaga pendidikan tinggi dunia,” kata Stella.

Stella mengatakan dirinya selalu lantang menyatakan identitasnya sebagai orang Indonesia, dan selalu bangga karenanya. Menurutnya, rasa bangga itu memperkuat reputasi ilmuwan Indonesia di kancah internasional.

Stella juga menilai, hampir semua ilmuwan diaspora Indonesia menunjukkan dedikasi kuat untuk memberi kembali kepada Tanah Air dan membuka peluang bagi sesama.

“Contoh-contoh baik ini perlu disorot. Prof Vivi Kashim di Tiongkok, Prof Sastia Putri di Jepang, Prof Haryadi di Amerika Serikat dan masih banyak lagi. Semoga kita terbuka bahwasanya memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk,” kata Stella.

Stella pun memberikan sejumlah tips bagi penerima beasiswa negara untuk menumbuhkan rasa patriotisme. Salah satunya, lanjut dia, yaitu fokus bemanfaat bagi individu-individu yang ada di Tanah Air.

“Pertama, bagi penerima beasiswa negara, fokuslah bagaimana Anda bisa bermanfaat bagi individu-individu di Indonesia, lebih dari untuk institusi yang abstrak. Fokus pada individu akan membuat Anda bernalar dengan lebih tajam,” ujarnya.

“Kedua, bagi para orang tua, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri, gunakanlah bahasa Indonesia di rumah dan tanamkan kebanggaan berbahasa Indonesia kepada Anak,” lanjutnya.

Ia juga menekankan penggunaan bahasa Indonesia mampu meningkatkan rasa patriotisme. Stella mengatakan bahkan di keluarganya yang multikultural pemakaian bahasa diterapkan termasuk ke suami yang berasal dari Polandia.

“Kemampuan berbahasa Indonesia tidak pernah menjadi beban, bahkan bisa menjadi senjata ampuh! Di keluarga saya, bukan hanya anak saya yang diwajibkan berbahasa Indonesia, tetapi suami saya yang berasal dari Polandia pun diharuskan bisa Bahasa Indonesia,” imbuhnya.

Sebelumnya, video yang diunggah akun Instagram @sasetyaningtyas viral di media sosial. Dalam video itu, ia tengah membuka sebuah paket berisikan selembar surat pernyataan dari Home Office Inggris soal anak keduanya yang resmi menjadi warga negara Inggris.

Perempuan itu juga memperlihatkan paspor Inggris yang datang bersamaan dengan surat tersebut. Ia terlihat gembira karena anaknya telah resmi menjadi warga negara Inggris.

“I know the world seems unfair tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan, kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” ujar dia dalam video.

Buntut pernyataannya itu, penerima beasiswa LPDP inisial DS itu pun meminta maaf. Ia mengunggah klarifikasi dan permohonan maaf pada Jumat (20/2/2026) seraya mengakui pernyataannya itu keliru dan tidak tepat.

“Saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia. Untuk itu, saya mengakui kesalahan saya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik,” ujarnya.

HT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  65  =  72