Nasional

Dari Tenda Darurat ke Huntara: Kisah Purwati Bertahan dari Amukan Banjir Aceh

Channel9.id – Aceh Tamiang. Langit malam di Simpang Empat, Kecamatan Karangbaru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, tampak tenang pada Kamis (19/2/2026). Angin berembus pelan di deretan hunian sementara (Huntara) yang berdiri rapi, berbeda jauh dengan malam-malam panjang yang pernah dilewati para pengungsi di bawah tenda darurat.

Di depan unit B1, seorang perempuan berusia 45 tahun duduk di bangku plastik. Ia menggendong anak laki-lakinya yang masih balita, yang sesekali merengek pelan karena kantuk mulai menguasai.

Perempuan itu memperkenalkan diri dengan singkat ketika ditanya namanya. “Nama saya Purwati.”

Purwati adalah satu dari ribuan warga yang terdampak banjir dan longsor besar yang melanda Aceh pada akhir November 2025. Rumahnya di Kampung Sukajadi, Kuala Simpang, hilang tersapu air bah yang datang berulang-ulang dan terus meninggi.

Di pangkuannya, sang balita memeluk erat tubuh ibunya. Purwati sesekali mengayun perlahan, mencoba menenangkan anaknya sambil tetap menjawab pertanyaan.

“Sama keluarga,” katanya, ketika ditanya tinggal bersama siapa. “Ya sama suami, sama anak, ada mertua, ada sepupu,” tambahnya.

“Ini satu ini, sepupu ini,” jawab Purwati sambil menunjuk salah satu perempuan yang tak lepas dari pandangannya.

Ia memiliki lima anak. “Anak saya lima,” ucapnya.

Satu anak sudah sekolah, dan tiga lainnya masih dalam usia sekolah. Kehidupan yang dulu berjalan seperti biasa, kini terpusat di satu unit hunian sementara yang dihuni bersama anggota keluarga lainnya.

Malam itu, wawancara dilakukan setelah Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menghadiri acara buka bersama dengan para penghuni Huntara Simpang IV Karangbaru di halaman Masjid Darussalam. Suasana sebelumnya sempat ramai, namun perlahan kembali hening ketika para warga meninggalkan lokasi. Beberapa warga lainnya melaksanakan salat tarawih berjamaah bersama Tito.

Purwati mengaku bersyukur atas tempat tinggal sementara yang kini ditempatinya. “Kami merasa senang, merasa tenang. Kami tinggal di sini pun nyaman, daripada di tenda kemarin kan,” ungkap Purwati.

Sebelum menempati unit B1 pada awal Januari 2026, Purwati dan keluarganya sempat tinggal hampir dua bulan di tenda darurat. Lokasinya berada di atas jembatan Kuala Simpang, tempat yang mereka anggap paling aman saat itu.

“Ya di tenda di jembatan itulah, di atas jembatan,” katanya.

Ia menggambarkan kondisi di tenda dengan kalimat sederhana. “Kondisinya habis. Di tenda itu ya begitulah, bergaul dengan abu, besempit-sempitan. Tapi ya apa boleh buat kan, udah musibah, udah terjadi,” tuturnya.

Selama hampir dua bulan di pengungsian darurat, kebutuhan dasar serba terbatas. Air bersih sulit diperoleh, ruang gerak sempit, dan cuaca tak selalu bersahabat.

“Hampir dua bulan juga. Terbatas juga itu. Semua, air bersih tidak ada, tempat tinggal ya, kayak gitu lah,” ungkap Purwati.

Penyakit pun sempat menghampiri keluarganya. “Ada pasti, penyakit kulit, satu, batuk. Batuk.”

Di tengah keterbatasan itu, Purwati mengatakan kabar pemindahan ke hunian sementara menjadi titik terang. Ia masih mengingat perasaannya saat mendengar rencana tersebut.

“Oh ya, rasa bahagia, rasa senang. Mau dapet tempat tinggal yang nyaman gitu kan, daripada di sana (tenda darurat) kan. Perasaan senang lah tinggal di sini,” kata Purwati.

Unit hunian sementara yang ditempatinya dilengkapi fasilitas dasar. Terdapat kipas angin, lemari, serta dapur berikut peralatan memasak.

“Fasilitas lengkap tempat tinggal ada. Kipas angin, lemari, dapur pun ada. Dapur pun ada alat dapur juga. Cuma, kalau masalah kebutuhan pokok masing-masing lah,” ujarnya.

Meski demikian, ia mencatat satu kekurangan yang masih dirasakan. “Alhamdulillah nyaman, tapi kalau air kurang. Airnya kurang.”

Bantuan lain juga terus berdatangan. “Ada, banyak bantuan. Ada mukena, sembako, ada Al-Quran, banyak lah.”

Namun di balik kenyamanan relatif di huntara, ingatan tentang hari kejadian masih membekas jelas. Purwati menyebut keselamatan jiwa sebagai prioritas utama ketika air mulai naik.

“Pas kejadian itu ya, kami yang utamanya kami nyawalah, kami selamatkan. Kalau masalah barang-barang atau benda, gak kami selamatkan,” katanya.

Air datang tidak hanya sekali. Ia dan keluarganya harus berpindah tempat hingga empat kali dalam waktu singkat.

“Karena kami kan mengungsi sampai empat kali, empat kali pindah. Rumah mertua saya dulu gak kena kan. Biasa gak pernah kena. Jadi saya pindah ke tempat mertua. Pindah berapa jam, naik terus. Pindah lagi tempat tetangga, tinggi airnya. Ga sempet juga di situ, pindah lagi ke jembatan itulah,”ungkapnya.

“Tiga kali pindah. Nasib baik kami ada jembatan baru itu, kalau enggak kan macam-macam,” sambung Purwati.

Rumahnya di Sukajadi, Kuala Simpang, kini tak lagi berdiri. “Hilang. Kalau di daerah kami rata-rata memang hilang. Tapi harapan kami rumah aja, tidak lain,” ujarnya.

Harapan itulah yang terus ia ulang ketika ditanya tentang masa depan. “Ya itu harapan ke depannya ya, minta yang lebih baik lah. Dan itu lah harapan yang kita ambil ke tempat tinggal lah. Tempat tinggal yang bisa dihuni lah,” harap Purwati.

Ia belum mengetahui sampai kapan akan tinggal di huntara. “Belum tahu, tapi kalau dengar kabar, paling lama satu tahun. Ya kalau kami minta ya syukur-syukur cepat siap,” pungkas Purwati.

Kunjungan pejabat pemerintah pusat, termasuk Menteri Dalam Negeri dan sebelumnya Wakil Presiden, ia sambut dengan perasaan senang. Baginya, perhatian itu menjadi tanda bahwa mereka tidak dilupakan.

“Kami merasa senang lah, karena selalu diperhatikan sama Pak Gibran, Bapak Presiden. Ya kami sangat senang lah, atas perhatiannya, atas bantuanya, pokoknya kami merasa terbantu lah. Banyak juga di sini untuk menyebarkan mental, banyak juga di sini. Itu anak-anak kan, fasilitas belajar ada juga,” ungkap Purwati.

Cerita Purwati merupakan potongan kecil dari dampak bencana besar yang melanda tiga provinsi di Sumatra pada akhir 2025. Dalam rapat koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana Sumatera bersama pimpinan DPR RI di Jakarta, Rabu (18/2/2026), Mendagri menyampaikan bahwa bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menyebabkan 29 desa hilang akibat longsor dan banjir bandang.

Sebanyak 21 desa yang hilang berada di Aceh, tersebar di Aceh Tamiang, Nagan Raya, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Delapan desa lainnya berada di Sumatra Utara, terutama di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, sementara Sumatra Barat tidak mencatat adanya desa yang hilang.

Secara keseluruhan, bencana tersebut menyebabkan 1.205 orang meninggal dunia dan 139 orang masih dinyatakan hilang. Wilayah terdampak mencakup 52 kabupaten/kota, 491 kecamatan, dan 4.511 desa.

Jumlah pengungsi yang semula lebih dari dua juta orang kini menurun menjadi 12.994 orang. Di Aceh, pengungsi tersisa 12.144 orang dari sebelumnya sekitar 1,4 juta jiwa, dengan konsentrasi terbesar di Kabupaten Aceh Utara.

Kerusakan rumah di Aceh tercatat mencapai 256.258 unit dengan berbagai kategori kerusakan. Di wilayah pegunungan, longsor memutus akses jalan dan jembatan, sementara di dataran rendah banjir bandang membawa lumpur dan kayu yang merendam permukiman.

Pemerintah mengerahkan 90.109 personel gabungan dari TNI, Polri, kementerian/lembaga, serta relawan untuk penanganan darurat. Sebanyak 2.185 unit alat berat dikerahkan membuka akses terisolasi dan membersihkan lumpur, dengan sekitar 70 persen dari 337 titik pembersihan telah diselesaikan.

Dalam forum tersebut, Tito menegaskan komitmen pemulihan bertahap. “Pemerintah ingin memastikan pelayanan publik, kesehatan, pendidikan, akses jalan, dan aktivitas ekonomi kembali berjalan normal. Penanganan dilakukan secara bertahap hingga masyarakat benar-benar pulih,” ujar Tito.

Di depan unit B1, angka-angka statistik itu menjelma menjadi cerita tentang ruang sempit yang pernah dihuni, tentang malam di atas jembatan, dan tentang rumah yang hilang tanpa sisa. Purwati tak berbicara tentang data atau persentase pemulihan.

Ia berbicara tentang anak-anaknya yang kini memiliki tempat tidur lebih layak dibandingkan tenda. Tentang dapur kecil yang bisa dipakai memasak, meski air masih terbatas.

Balitanya akhirnya terlelap di pelukannya. Purwati menggeser duduknya sedikit agar sang anak lebih nyaman, lalu memandang deretan huntara yang berdiri seragam di bawah lampu-lampu temaram.

Di tempat itu, ia belum tahu berapa lama akan tinggal. Namun untuk sementara, di tengah kehilangan yang besar, ia menemukan sesuatu yang sederhana: rasa tenang karena memiliki atap, meski hanya sementara, dan harapan bahwa suatu hari nanti ia bisa kembali memiliki rumah yang benar-benar miliknya.

HT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

48  +    =  49