Lifestyle & Sport

Film Horor ‘Hajatan Setan’ tentang Sisi Gelap Tradisi Desa, Segera Tayang di Bioskop

Channel9.id-Jakarta. Film Indonesia bergenre horor masih banyak diproduksi karena tetap banyak peminatnya. Kali ini, film genre horor yang menjanjikan ketegangan maksimal dengan judul ‘Hajatan Setan’. Sebuah film hasil kolaborasi MBK Productions dan Drias Film ini dengan menggandeng distributor Mockingbird Pictures yang melakukan ekspansi pemutaran film hingga ke luar Indonesia.

Mengusung genre folk horror yang kental dengan drama sosial, cerita berpusat pada sebuah desa di Jawa yang menyimpan misteri dan rahasia turun-temurun. ‘Hajatan Setan’ mengeksplorasi sisi gelap dari sebuah perayaan desa yang dipercaya warga setempat sebagai sumber datangnya kemakmuran.

Premis utama film ini menyoroti kepulangan seorang perempuan muda ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun pergi merantau. Namun, kepulangan itu justru membuka kembali luka lama dan memicu rentetan peristiwa ganjil yang membuat seluruh warga diliputi kecurigaan serta ketakutan.

Daya tarik film ini semakin kuat dengan hadirnya deretan aktor papan seperti Tanta Ginting, Indra Birowo, hingga Karina Suwandi. Tak hanya nama senior, film ini juga dibintangi talenta muda berbakat seperti Alika Jantinia, Gisellma Firmansyah, Bima Zeno, dan Sita Permata Sari.

Ari Irham selaku salah satu pemeran utama, mengaku mendapatkan tantangan tersendiri dalam menyelami karakter yang memiliki tekanan emosional kuat di film ini. Aktor muda tersebut menjelaskan alasan mengapa naskah film ini terasa begitu mencekam baginya secara pribadi.

“Yang membuat saya tertarik bagaimana horornya terasa dekat dan personal. Ada trauma, ada tekanan sosial, dan itu membuat ketakutannya terasa nyata,” kata Ari Irham dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (6/3/2026).

Sementara itu, aktris senior Asri Welas merasakan dampak psikologis saat pertama kali mempelajari jalan ceritanya dan menyebutnya sebagai pengalaman intens. Komedian yang kerap tampil jenaka ini menuturkan betapa judul filmnya saja sudah memberikan ironi yang menakutkan.

“Begitu membaca naskahnya, saya langsung merinding. Ada momen-momen yang benar-benar membuat saya tidak nyaman. Istilah ‘hajatan setan’ sendiri sudah cukup menyeramkan, karena kita semua tahu hajatan itu identik dengan kebahagiaan, tapi di sini justru jadi sumber teror,” ujar Asri.

Kekuatan cerita film ini tak lepas dari tangan dingin para penulis naskah yakni Andhy Pulung, B.W. Purba Negara, Vidya T. Ariestya, dan Novia Anggi. Di bawah arahan produser eksekutif Budi Yulianto dan produser Rendy Gunawan, mereka meramu elemen kepercayaan kolektif masyarakat menjadi sebuah teror visual yang mencekam.

Di kursi penyutradaraan, Bambang Drias berkolaborasi dengan Eko Kristianto, memvisualisasikan bagaimana sebuah kejanggalan demi kejanggalan muncul di tengah masyarakat. Agar teror yang disampaikan bisa masuk ke alam bawah sadar penonton, pendekatan visual dan penceritaan dibuat serealistis mungkin dengan kehidupan masyarakat desa.

“Kami ingin penonton merasa ini bukan cerita yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ketika satu desa percaya bahwa pengorbanan adalah bagian dari tradisi, horornya jadi terasa masuk akal, dan justru itu yang menjadi sumber horornya. Hajatan Setan bermain di wilayah itu: antara kepercayaan dan ketakutan,” jelas Eko.

Dengan kombinasi isu stigma sosial, tradisi, dan pengorbanan yang relevan, Hajatan Setan diprediksi akan menjadi tontonan yang tidak hanya menakutkan tetapi juga memicu diskusi. Film ini siap menyajikan pengalaman sinematik yang menggugah rasa ingin tahu penonton tentang batas tipis antara tradisi dan malapetaka.

Kontributor: Akhmad Sekhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8  +  1  =