Channel9.id – Jakarta. Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk menjadi Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Ia dipilih oleh Majelis Ahli sepuluh hari setelah sang ayah, ibu, hingga istri bernama Zahra Haddad-Adel, tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Teheran pada 28 Februari lalu.
Mojtaba dikenal cukup tertutup dari publik. Putra kedua Ali Khamenei ini tak pernah memegang jabatan di pemerintahan maupun memberikan pidato atau wawancara publik, dan foto-videonya hanya pernah dipublikasikan beberapa kali.
Namun, dilansir dari BBC, Mojtaba diyakini memiliki pengaruh yang cukup besar di Iran selama bertahun-tahun. Ia juga sering disebut sebagai “pangeran bayangan” yang mengelola lingkaran dalam ayahnya. Ia juga disebut memiliki hubungan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) serta badan-badan intelijen Iran.
Pria yang telah kehilangan ayah, ibu, dan istrinya dalam serangan AS-Israel itu kemungkinan besar akan mengikuti jejak ayahnya yang mempertahankan sikap garis keras terhadap AS.
Profil Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di kota Mashhad di timur laut Iran, salah satu pusat keagamaan utama di negara tersebut. la merupakan putra kedua dari almarhum Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran sebagai pemimpin tertinggi sejak 1989 hingga tewas lebih dari sepekan lalu dalam serangan udara AS dan Israel, serta cucu dari ulama Sayyed Javad Khamenei.
Tumbuh dalam lingkungan yang sarat dinamika politik, Mojtaba menyaksikan kebangkitan ayahnya sebagai tokoh penting dalam Revolusi Islam dan kemudian sebagai presiden Iran sebelum menjabat sebagai pemimpin tertinggi.
Mojtaba sendiri menghabiskan tujuh tahun di kota Sardasht dan Mahabad di barat laut Iran untuk pendidikan awalnya. Ia bergabung dengan IRGC pada 1987 setelah lulus sekolah menengah.
Pada 1999, Mojtaba memperdalam studi Islam di Qom untuk menempuh jalur sebagai ulama.
Sumber yang dekat dengan IRGC dan lembaga keamanan Iran juga menerbitkan sejumlah laporan dan kesaksian mengenai keterlibatan Mojtaba dalam perang Iran-Irak pada dekade 1980-an.
Menurut kisah tersebut, Mojtaba baru berusia sekitar 17 tahun ketika pergi ke garis depan dan bergabung dengan sebuah batalion. Beberapa anggota batalion itu kemudian menjadi tokoh penting di bidang intelijen dan keamanan Republik Islam dan diketahui memiliki kedekatan dengan Mojtaba.
Ia menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politikus konservatif terkemuka dan mantan ketua parlemen yang saat ini memimpin salah satu lembaga kebudayaan utama di Iran. Zahra termasuk di antara korban yang tewas dalam serangan AS dan Israel yang menargetkan kompleks kediaman keluarga Khamenei di ibu kota Teheran.
Mojtaba selamat dari serangan tersebut, namun ia juga kehilangan ibunya, saudara perempuannya, iparnya, serta keponakan-keponakannya.
HT





