Channel9.id – Pidie Jaya. Pemerintah mengalokasikan Rp86,7 miliar untuk program revitalisasi 72 satuan pendidikan terdampak bencana di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Program ini merupakan bagian dari percepatan pemulihan sarana pendidikan agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan dengan aman dan nyaman.
Sebanyak 72 sekolah di daerah tersebut telah menandatangani perjanjian kerja sama program revitalisasi tahun 2026. Dari jumlah itu, 62 sekolah dikerjakan secara swakelola, sementara 10 sekolah lainnya dilaksanakan oleh TNI AD.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan program tersebut merupakan upaya pemerintah mempercepat rekonstruksi sarana pendidikan di Aceh. Ia juga menyampaikan sejumlah sekolah yang menandatangani perjanjian pada tahap pertama telah mulai memasuki tahap pekerjaan awal.
“Ini bagian dari upaya kami agar rekonstruksi, khususnya untuk sarana pendidikan di Aceh, dapat terselesaikan dengan lebih cepat lagi,” kata Mu’ti di Aceh, Senin (9/3/2026).
Pemerintah menargetkan sekolah dengan kerusakan ringan hingga sedang dapat selesai pada awal tahun ajaran baru Juni 2026. Sementara itu, sekolah dengan kerusakan berat maupun yang memerlukan relokasi ditargetkan rampung pada November 2026.
Menurut Mu’ti, pemerintah juga sedang memproses penanganan bagi sekolah yang harus direlokasi karena kondisi lokasi yang tidak memungkinkan digunakan kembali. Ia menyatakan kementerian menunggu kepastian lokasi sebelum penganggaran pembangunan dilakukan.
“Kami menunggu kepastian tempatnya. Mudah-mudahan bisa kami berikan prioritas dengan anggaran tahun 2026,” tambahnya.
Secara nasional, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp14 triliun untuk program Revitalisasi Satuan Pendidikan tahun 2026. Program tersebut ditujukan bagi sekitar 11.000 satuan pendidikan di berbagai daerah, terutama sekolah terdampak bencana, sekolah dengan kerusakan berat, serta sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Pelaksana Tugas Kepala SD Negeri 8 Meureudu, Martini, mengatakan sekolahnya terdampak cukup parah saat banjir dengan ketinggian air sekitar 1,5 meter yang merendam ruang kelas dan perabotan sekolah. Pada 2026 sekolah tersebut memperoleh bantuan revitalisasi berupa rehabilitasi 12 ruang kelas dan proses pembangunan telah mulai berjalan.
“Dengan adanya peninggian bangunan, ke depannya kalau ada banjir kami bisa lebih siaga. InsyaAllah aman ke depannya, dan anak-anak bisa belajar dengan baik di sini, tidak lagi takut dengan adanya banjir,” ujarnya.
Kepala SMA Negeri 2 Meureudu, Muhammadiyah, menyampaikan sekolahnya merupakan salah satu yang terdampak banjir paling parah di Kabupaten Pidie Jaya. Wilayah sekolah dan ruang kelas tertimbun tanah sehingga tidak lagi dapat digunakan.
“Di sini kami tidak bisa memanfaatkan sarana dan prasarana yang sudah ada, seperti komputer, TV, buku, semua sudah tertimbun,” ujarnya.
Ia mengatakan sebagian buku bantuan dari kementerian baru kembali diterima dan rencananya akan dimanfaatkan setelah libur Lebaran. Sekolah tersebut juga akan menerima bantuan pembangunan sekolah baru di lokasi yang sama senilai Rp7,9 miliar yang dikerjakan oleh TNI AD.
“Buku ini dari kementerian baru datang, setelah lebaran akan kami manfaatkan,” katanya.
Muhammadiyah berharap pembangunan sekolah baru tersebut dapat memberikan fasilitas yang lebih baik bagi kegiatan belajar mengajar di masa mendatang.
“Harapan ke depan semoga pemerintah membangun yang lebih bagus lagi,” tutupnya.
HT





