Channel9.id, Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto menyoroti kompleksitas pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selama ini tersebar dalam sangat banyak entitas. Ia bahkan mengaku baru mengetahui jumlah perusahaan yang terkait dengan BUMN bisa mencapai lebih dari seribu entitas jika menghitung anak hingga cicit perusahaan.
Prabowo menyampaikan hal itu dalam acara syukuran satu tahun berdirinya Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, struktur perusahaan negara yang terlalu besar dan tersebar membuat pengelolaan aset menjadi tidak efisien. Ia menilai kondisi tersebut tidak memungkinkan satu manajemen mengelola seluruh perusahaan secara optimal.
“Tidak mungkin kita mengelola 250 perusahaan. Bahkan ternyata bukan 250, tetapi lebih dari seribu perusahaan. Tidak ada pelajaran manajemen di mana pun di dunia yang mengatakan satu manajemen bisa mengelola seribu entitas sekaligus,” ujar Prabowo.
Ia mengungkapkan sebelumnya memperkirakan jumlah perusahaan negara hanya sekitar 250 entitas. Namun setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, jumlahnya jauh lebih besar karena banyak BUMN memiliki anak, cucu, hingga cicit perusahaan.
Konsolidasi Lewat Danantara
Prabowo menilai kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah membentuk Danantara. Lembaga ini bertugas mengonsolidasikan pengelolaan aset berbagai perusahaan negara agar lebih terarah dan efisien.
Menurutnya, sistem manajemen yang terpusat akan mempermudah pengawasan sekaligus meningkatkan kinerja perusahaan negara.
“Ini membuktikan premis kita mendirikan Danantara, bahwa manajemen yang baik harus berada dalam satu kendali, satu tangan, dan satu manajemen,” katanya.
Struktur BUMN Semakin Kompleks
Prabowo juga menyoroti perkembangan BUMN sejak awal kemerdekaan. Pemerintah saat itu mendirikan banyak perusahaan untuk membangun industri strategis nasional, mulai dari tekstil, kertas, hingga farmasi.
Seiring waktu, berbagai BUMN terus memperluas bisnis dengan membentuk anak perusahaan baru. Akibatnya, struktur perusahaan negara menjadi semakin kompleks.
Ia mencontohkan PT Pertamina (Persero) yang memiliki sekitar 200 anak dan cucu perusahaan.
Menurut Prabowo, kondisi tersebut memperkuat kebutuhan untuk mengonsolidasikan pengelolaan aset negara melalui Danantara. Dengan langkah itu, pemerintah berharap sistem pengelolaan BUMN menjadi lebih efisien, transparan, dan akuntabel.





