Channel9.id, Jakarta. Transformasi pendidikan digital di Indonesia menarik perhatian global. Penggunaan papan tulis interaktif atau Interactive Flat Panel (IFP) di ruang kelas dinilai mendorong pembelajaran yang lebih modern, adaptif, dan inklusif.
Sorotan tersebut datang dari Global South World. Melalui akun Instagram resminya, platform ini menampilkan video yang memperlihatkan antusiasme siswa saat menggunakan IFP di kelas. Teknologi ini membuat proses belajar lebih hidup dan interaktif, sekaligus mendorong keterlibatan siswa.
Sejumlah siswa mengaku lebih mudah memahami materi dibandingkan metode ceramah konvensional. “Lebih gampang dicerna aja di otak kita sih kak,” ujar seorang siswa, dikutip Jumat (3/4/2026). “Terus kita jadi bosen ngeliat papan tulis yang putih doang,” tambah siswi lainnya.
Dalam unggahannya, Global South World mencatat sekitar 288.000 layar interaktif telah digunakan di Indonesia untuk menggantikan papan tulis konvensional. Teknologi ini memungkinkan guru menyajikan materi secara visual dan variatif, sehingga meningkatkan perhatian siswa.
Program ini juga telah menjangkau sedikitnya 21 juta siswa hingga November 2025. Pemerintah dan pemangku kepentingan juga melatih lebih dari 55.000 guru untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi tersebut. Kehadiran IFP memperkuat peran guru dalam menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan efektif.
Penggunaan IFP juga mendorong siswa mengembangkan minat belajar. Sejumlah siswa mengaku lebih menikmati pelajaran informatika, sementara lainnya merasa matematika menjadi lebih menarik.
“Apalagi untuk pelajar matematika, yang biasanya murid lebih boring pakai papan tulis, dengan ini lebih fun,” ujar seorang siswi.
Selain itu, teknologi ini memperluas akses pembelajaran, termasuk bagi siswa dengan minat di bidang olahraga. “Aku mau jadi atlet tenis meja. Aku bisa pakai digitalnya buat nonton pertandingan atlet yang aku suka,” kata seorang siswa.
IFP juga dirancang fleksibel. Pengguna dapat mengoperasikannya secara online maupun offline. Bahkan, perangkat ini bisa menggunakan tenaga surya untuk menjangkau wilayah tanpa listrik. Pendekatan ini membuka peluang pemerataan pendidikan digital di seluruh Indonesia.





