Channel9.id, Aceh. I Gusti Ngurah Erlang AW sigap membersihkan tumpukan lumpur yang menutupi situs bersejarah Istana Benua Raja, peninggalan Kerajaan Benua Tunu, di Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (4/4/2026).
Dengan sekop dan kereta dorong, Erlang bolak-balik menyisir setiap sudut bangunan bersejarah tersebut. Ia mengeruk lumpur yang mengeras setelah banjir melanda Aceh Tamiang pada akhir November tahun lalu.
Meski harus bekerja di bawah terik matahari, Praja Pratama Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) angkatan 36 itu tetap antusias. Ia membersihkan Istana Benua Raja yang menjadi salah satu titik utama dalam Praktik Kerja Lapangan (PKL) gelombang ketiga Praja IPDN di Aceh Tamiang.
Praja IPDN kontingen Bali itu bergabung dengan 730 praja lainnya. Kementerian Dalam Negeri mengirim mereka untuk membersihkan 42 titik yang masih tertutup lumpur, terutama di permukiman warga. Erlang mengaku bangga bisa terlibat langsung dalam pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang.
Ia menilai PKL gelombang ketiga menuntut keterlibatan langsung di tengah masyarakat. Pengalaman ini memperkuat semangat kemanusiaan para praja, sehingga tugas mereka tidak sekadar membersihkan lumpur.
“Kami merasa menjalankan misi kemanusiaan. Kami sangat senang dan bangga, apalagi ini menjadi pengalaman pertama bagi banyak dari kami untuk bertugas di daerah bencana seperti Aceh,” kata Erlang.
Sebelumnya, Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, meminta praja IPDN bekerja keras membersihkan lumpur yang masih menutupi lingkungan permukiman warga di Aceh Tamiang.
Tito menyampaikan arahan itu saat memimpin apel pembukaan PKL gelombang ketiga Praja Pratama IPDN di Istana Benua Raja, Sabtu (4/4/2026).
Ia menjelaskan, sebanyak 731 praja IPDN pada gelombang ketiga akan fokus membersihkan lumpur di rumah warga, drainase, dan jalan desa. Langkah ini bertujuan mempercepat pemulihan lingkungan pascabencana.
“Target utama kami menyelesaikan persoalan lumpur yang masih tersisa, termasuk yang sudah mengeras. Kami juga membersihkan situs sejarah ini, rumah warga, dan drainase. Aceh Tamiang mengalami dampak berat karena endapan lumpur banjir bisa mencapai 4 sampai 5 meter,” kata Tito.





