Channel9.id-Jakarta. Sebuah film tak hanya hiburan semata, tapi juga menyampaikan pesan. Demikian dengan sutradara Joko Anwar yang menjadikan film horor komedi barunya yang berjudul “Ghost in the Cell” sebagai ajang untuk memamerkan talenta kreatif. Film ini memperlihatkan kemampuan para pekerja kreatif kepada masyarakat.
Joko Anwar menyampaikan bahwa para pemeran film ‘Ghost in the Cell’ berasal dari berbagai profesi.
“Tidak hanya murni aktor, tapi ada sinematografer, penari dan pembaca tarot, pelatih akting, komedian, dan ada banyak lagi,” kata Joko dalam acara pemutaran film ‘Ghost in the Cell’ di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Lebih lanjut, Joko menerangkan, dalam hal ini, antara lain merujuk pada sinematografer Jaisal Tanjung, penari dan pembaca tarot Magistus Miftah, pelatih akting Faiz Vishal, serta komedian Aming, Tora Sudiro, dan Danang Suryonegoro.
Penggarapan film ‘Ghost in the Cell’ juga melibatkan enam ilustrator berbakat Indonesia yang pernah bekerja untuk studio besar seperti DC dan Marvel.
“Jadi, setiap kematian itu didesain oleh satu orang ilustrator. Dan mereka adalah ilustrator-ilustrator yang sudah banyak bekerja di luar negeri, tapi namanya mungkin sebagian kecil aja yang tahu,” terang Joko.
Joko Anwar menyampaikan, film ‘Ghost in the Cell’ berbeda dengan karya-karya film sebelumnya. “Mereka kita tampilkan di sini karena kita kepingin ‘Ghost in the Cell’ bisa menjadi showcase untuk semua orang-orang yang bertalenta di Indonesia,” pungkas Joko Anwar.
‘Ghost in The Cell’ mengisahkan tentang kehidupan para narapidana di Lapas Labuhan Angsana yang harus bertahan hidup di tengah atmosfer penindasan. Selain menghadapi kesewenang-wenangan pejabat lapas, para tahanan terjebak dalam konflik internal berupa permusuhan dan kekerasan antar-sesama penghuni sel.
Situasi yang mencekam itu kian drastis saat seorang narapidana baru masuk ke penjara tersebut. Sosok ini dikenal sebagai mantan jurnalis yang terjerat kasus kriminal mengerikan. Kehadirannya menjadi pemantik rangkaian peristiwa misterius yang melampaui logika manusia.
Satu per satu narapidana tewas secara brutal dan tidak wajar. Kematian berantai tersebut diyakini berkaitan dengan kekuatan gaib yang mengincar siapa pun dengan energi negatif terbesar. Teror ini seketika mengubah lapas menjadi ruang penuh ketakutan dan kecurigaan akut.
Dalam kepungan maut, para narapidana berusaha mencari cara untuk selamat. Mereka meyakini bahwa menjaga aura tetap positif adalah kunci bertahan hidup. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari berbuat baik hingga meredam emosi. Namun, menjaga integritas moral di tengah penjara yang korup tentu bukan perkara mudah.
Ketegangan memuncak saat mereka menyadari bahwa perjuangan individu tidaklah cukup. Para tahanan akhirnya terpaksa menanggalkan ego dan konflik lama. Mereka bersatu demi menghadapi ancaman ganda: sistem yang menindas serta kekuatan tak kasat mata yang terus mengintai dari kegelapan.
Pemeran film ‘Ghost in The Cell’, antara lain, Abimana Aryasatya sebagai Anggoro, Almanzo Konoralma (Buki), Aming Sugandhi (Tokek), Arswendy Bening Swara (Prakasa), Bront Palarae (Jefry), Dimas Danang Suryonegoro (Irfan), Dewa Dayana (Prakasa muda), Endy Arfian (Dimas), Faiz Vishal (Vijay), Haydar Salishz (Donald), Yuhang Ho (Rendra), Ical Tanjung (Bambang), Kiki Narendra (Sapto), Lukman Sardi (Pendi), Magistus Miftah (Novilham), Mike Lucock (Wildan) dan Morgan Oey sebagai Bimo.
Film ‘Ghost in the Cell’ siap tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 16 April 2025.
Kontributor: Akhmad Sekhu





