Opini

Dari Cepat ke Tahan Lama: Menyempurnakan Strategi Pangan Nasional

Oleh: Rudi Andries*

Channel9.id-Jakarta. Langkah pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan patut dicatat sebagai salah satu upaya paling serius dalam beberapa tahun terakhir. Intervensi yang dilakukan—mulai dari peningkatan produksi, penguatan stok, hingga stabilisasi harga—menunjukkan arah kebijakan yang tegas dan terkoordinasi. Dalam konteks jangka pendek, strategi ini bekerja. Ia meredam gejolak, menjaga pasokan, dan memberi rasa aman di tengah ketidakpastian global.

Namun, keberhasilan merespons situasi hari ini sekaligus membuka ruang refleksi untuk menjawab tantangan esok. Ketahanan pangan bukan sekadar soal cukup atau tidaknya pasokan, melainkan tentang bagaimana sistem pangan itu sendiri mampu bertahan, beradaptasi, dan memberi nilai tambah yang adil bagi seluruh pelaku di dalamnya—terutama petani.

Di titik inilah, pendekatan yang selama ini bertumpu pada logika produksi dan distribusi dapat diperkaya dengan perspektif yang lebih menyeluruh. Pangan tidak lagi hanya dilihat sebagai komoditas yang harus tersedia, tetapi sebagai ekosistem yang mencakup rantai nilai, inovasi teknologi, hingga dinamika pasar global. Ketika rantai nilai diperkuat, petani tidak berhenti sebagai produsen bahan mentah, melainkan menjadi bagian dari aktor ekonomi yang memiliki posisi tawar lebih kuat.

Penguatan ini juga relevan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Ketahanan pangan ke depan tidak bisa dilepaskan dari kemampuan sistem pertanian menyerap guncangan, baik dari cuaca ekstrem maupun fluktuasi pasar. Pendekatan berbasis keberlanjutan—seperti pengelolaan karbon tanah atau praktik pertanian regeneratif—dapat menjadi jalan untuk memastikan produktivitas tetap terjaga sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Di sisi lain, pembiayaan menjadi aspek yang layak mendapat perhatian lebih. Selama ini, peran negara melalui anggaran publik sangat dominan. Peran tersebut tetap penting, namun dapat dilengkapi dengan skema pendanaan inovatif yang melibatkan sektor swasta dan instrumen keuangan baru. Dengan demikian, beban fiskal dapat lebih terjaga, sementara ruang ekspansi sektor pertanian tetap terbuka.

Apa yang telah dibangun hari ini sejatinya adalah fondasi yang kuat. Strategi cepat yang ditempuh pemerintah telah menciptakan momentum. Tantangan berikutnya adalah memastikan momentum itu tidak berhenti sebagai capaian jangka pendek, melainkan berkembang menjadi sistem yang kokoh, adaptif, dan berdaya saing dalam jangka panjang.

Di sinilah pentingnya penyempurnaan arah kebijakan—bukan untuk mengoreksi, melainkan untuk melengkapi. Agar ketahanan pangan tidak hanya menjadi cerita tentang keberhasilan hari ini, tetapi juga tentang kesiapan menghadapi masa depan.

Baca juga: Biochar dan Ketahanan Pangan

* Wakil Ketua Umum DNiKS, dan Anggota Pengawas Asosiasi Biochar indonesia Internasional (ABII)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

77  +    =  81