Ekbis

MBG Picu Produksi Pangan Lokal, Warga Punden Andalkan Lele

Channel9.id, Blora. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya meningkatkan asupan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong terbentuknya rantai pasok pangan lokal berbasis komunitas. Di Kelurahan Punden, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, warga mengembangkan budidaya lele melalui koperasi sebagai sumber protein untuk dapur MBG sekaligus penggerak ekonomi lokal.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendukung program ini dengan menyalurkan bantuan kepada Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Punden. Bantuan tersebut meliputi 24 kolam budidaya, sekitar 60 ribu benih lele, pakan, serta sarana pendukung lainnya.

Pengelola kolam lele sekaligus Wakil Ketua Bidang Usaha KKMP Punden, Akhlis Nurfuad, mengatakan koperasi mulai mengarahkan hasil panen untuk memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dalam satu siklus, produksi mencapai dua hingga tiga kuintal dan dilakukan bertahap.

“Kalau panen dua kolam, hasilnya sekitar dua sampai tiga kuintal. Maksimal bisa setiap empat hari sekali,” ujar Akhlis saat ditemui di kolam bioflok, Minggu (26/4/2026).

Ia menjelaskan kebutuhan dapur MBG biasanya sekitar 2.500 ekor lele atau setara 2,5 hingga 3 kuintal per suplai. Menurutnya, program ini memberi manfaat ganda, baik untuk pemenuhan gizi masyarakat maupun tambahan penghasilan bagi pembudidaya.

Ketua KKMP Punden, Rohmah Yuli Fridayanti, mengatakan koperasi terus meningkatkan produksi agar dapat memasok langsung ke SPPG terdekat, seperti SPPG Belurasa Karangjati. Saat ini, koperasi masih menjual hasil panen secara bertahap kepada pengepul.

“Panen awal baru sekitar 180–200 kilogram, jadi belum cukup untuk suplai ke SPPG,” ujarnya.

Ia menargetkan suplai langsung ke SPPG dapat dimulai pada panen berikutnya yang direncanakan berlangsung pada Mei.

Lurah Punden, Fikri Hidayat, menambahkan produksi kini mulai berjalan rutin dengan panen harian sekitar 70 hingga 150 kilogram. Untuk sementara, hasil panen masih diserap pengepul karena volumenya belum stabil untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG.

Menurut Fikri, program ini tidak hanya menggerakkan ekonomi warga, tetapi juga membantu pemenuhan gizi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Program ini membantu warga sekaligus mendukung penurunan angka stunting,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas dukungan program tersebut melalui KKP.

Program ini menunjukkan MBG tidak hanya berfungsi sebagai program konsumsi, tetapi juga mampu menggerakkan produksi pangan lokal. Keterlibatan koperasi dan masyarakat membuat rantai pasok lebih mandiri sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

30  +    =  40