Channel9.id-Jakarta. Membintangi sebuah film tentu ada pengalaman tersendiri, baik pengalaman personal maupun emosional. Demikian dengan artis Acha Septriasa mengungkap pengalaman personal dan emosional dalam membintangi film ‘Suamiku Lukaku’. Sebuah film drama produksi SinemArt Pictures yang mengangkat isu kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT.
Dalam film ‘Suamiku Lukaku’, Acha Septriasa beradu akting dengan Baim Wong, Raline Shah, dan Ayu Azhari.
Film ini mengisahkan pasutri Amina (Acha Septriasa) dan Irfan (Baim Wong) yang dipenuhi KDRT, baik fisik yang meninggalkan luka terlihat maupun kekerasan verbal hingga menyisakan luka batin mendalam.
Dalam trailer, Irfan adalah pemuka agama terpandang di lingkungan sekitar, mengikuti jejak sang ayah.
Citra yang dibangun di hadapan publik berbanding terbalik dengan realitas yang dialami Amina di rumah. Perlakuan Irfan tak hanya melukai Amina, tapi juga berdampak pada putri mereka, Nadia (Azkya Mahira). Perilaku Irfan meninggalkan kepedihan bagi ibunda Amina (Ayu Azhari).
Di pertengahan trailer, Amina menunjukkan perlawanan, titik balik yang menandai keberanian korban KDRT untuk menolak diam. Dibantu Zahra (Raline Shah), pengacara yang memperjuangkan hak perempuan, Amina bersuara.
Bagi Acha Septriasa, memerankan Amina pengalaman personal sekaligus emosional. “Amina representasi dari banyak perempuan yang selama ini memilih diam, bukan karena mereka lemah, tapi karena situasi yang membuat mereka merasa tidak punya pilihan,” kata Acha Septriasa dalam pernyataan tertulisnya, Senin (4/5/2026)
Lebih lanjut, Acha Septriasa menerangkan, selama memerankan Amina, ia belajar berempati kepada korban KDRT. Salah satunya bahwa luka tak selalu dalam bentuk memar tapi sobekan pada kulit tubuh korban.
“Saya belajar bahwa luka yang dialami tidak selalu terlihat, tapi dampaknya sangat dalam dan nyata. Saya berharap penonton bisa merasakan pergulatan batin Amina, memahami ketakutan dan kebimbangannya sekaligus melihat selalu ada ruang untuk bangkit,” terangnya.
Disutradarai Ssharad Sharaan dan Viva Westi berbekal naskah karya Titien Wattimena serta Beta Ingrid Ayu, hadir sebagai ruang refleksi atas realitas yang kerap luput dari perhatian.
Sejak awal, Ssharad Sharaan dan tim ingin menghadirkan cerita pernikahan yang terlihat sempurna di luar, tapi menyimpan kekerasan emosional dan fisik yang berlangsung selama bertahun-tahun di dalamnya.
“Banyak perempuan hidup dalam situasi di mana diam menjadi cara bertahan, hingga ada titik ketika semuanya tidak bisa lagi dipertahankan, terutama saat menyangkut masa depan anak. Dari situ, keberanian melawan mulai tumbuh,” Ssharad Sharaan mengulas.
Viva Westi menambahkan, banyak perempuan kehilangan ruang untuk bersuara, bahkan di rumahnya sendiri. Mereka dibungkam oleh kekerasan dari orang yang mereka pernah percaya bisa memberi kenyamanan dan keamanan.
“Semoga melalui film ini, para perempuan di luar sana yang jadi korban seperti Amina, di manapun berada, sadar bahwa kita berhak memperjuangkan suara dan hak atas tubuh serta diri kita sendiri,” paparnya, panjang.
Sudah waktunya perempuan berhenti diidentifikasi dengan luka. Sudah waktunya perempuan diidentifikasikan dengan keberanian.
Film ‘Suamiku Lukaku’ siap tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 27 Mei 2026.
Kontributor: Akhmad Sekhu




