Satgas PRR Perkuat Mitigasi Bencana Susulan di Titik Rawan Wilayah Terdampak
Nasional

Satgas PRR Waspadai Bencana Susulan, Sinkhole 85 Meter di Aceh Jadi Sorotan

Channel9.id-Jakarta. Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera memperkuat langkah mitigasi di sejumlah titik rawan bencana susulan di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan proses pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan kembali infrastruktur, tetapi juga mengutamakan keselamatan masyarakat dan ketahanan wilayah dalam jangka panjang.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah kunjungan lapangan Tim Satgas PRR Aceh bersama Balai Kementerian Pekerjaan Umum, yakni BPJN Aceh dan PT Hutama Karya, ke kawasan Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah serta lokasi sinkhole di Kampung Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Jumat (12/6/2026).

Kedua lokasi tersebut menjadi perhatian karena masih menyimpan potensi risiko lanjutan pascabencana. Di kawasan Enang-Enang, kerusakan jalan dan jembatan terjadi akibat longsor tebing dan banjir bandang. Sementara di Pondok Balek, fenomena tanah amblas atau sinkhole berpotensi terus meluas dan mengancam lahan pertanian, akses jalan, hingga jaringan listrik.

Di kawasan Tajuk Enang-Enang, Jalan Raya Bireuen-Takengon, jalur penghubung masyarakat sempat terputus akibat kerusakan jalan dan jembatan. Padahal, jalur tersebut merupakan akses penting bagi mobilitas warga serta distribusi hasil pertanian dan perkebunan dari wilayah Gayo menuju pesisir utara Aceh.

Meski warga telah membuka akses darurat secara swadaya sehingga kendaraan dapat melintas secara terbatas, BPJN Aceh mengingatkan kondisi jalur tersebut masih sangat berisiko. Faktor tanah yang labil, medan curam, minim penerangan, hingga kerusakan serius pada fondasi jembatan menjadi ancaman bagi pengguna jalan.

Satgas PRR menilai penanganan di lokasi tersebut harus dilakukan secara hati-hati berdasarkan kajian teknis dan geologi. Selain membuka akses sementara, diperlukan koordinasi lintas instansi untuk memastikan keselamatan warga, termasuk dalam penanganan jalan, jembatan, tebing, dan aliran sungai.

Sebagai solusi permanen, pemerintah telah menyiapkan rencana pembangunan jembatan shortcut yang ditargetkan mulai dikerjakan pada 2027. Sementara itu, BPJN Aceh melalui Satker Wilayah 3 terus melakukan pemeliharaan jalur alternatif guna menjaga konektivitas menuju Takengon.

Perhatian khusus juga diberikan terhadap fenomena sinkhole di Kampung Pondok Balek. Berdasarkan informasi sementara BPJN, lubang amblas tersebut diperkirakan memiliki kedalaman hingga 85 meter dengan luas sekitar 3 hektare.

Fenomena itu telah menyebabkan hilangnya lahan pertanian warga, ambruknya tower listrik, serta terputusnya akses jalan di sekitar lokasi.

Dalam laporan kegiatan Satgas PRR disebutkan bahwa struktur tanah di area sinkhole didominasi material bekas abu vulkanik dan minim batuan keras. Kondisi tersebut membuat lapisan bawah tanah lebih mudah terkikis, terutama saat curah hujan tinggi dan ketika terjadi aktivitas gempa.

Satgas PRR juga mencatat arah pelebaran sinkhole yang sebelumnya mengarah ke hulu Sungai Peusangan kini cenderung bergerak ke arah Danau Laut Tawar. Karena itu, pemantauan harian, pembaruan rambu peringatan, dan pembatasan akses warga ke zona berbahaya dinilai menjadi langkah mendesak untuk mencegah potensi korban jiwa.

Baca juga: Anggaran Cair, Satgas PRR Genjot Pelaksanaan Rekonstruksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3  +  3  =