Doktor Syaifudin UNJ
Nasional

Raih IPK Sempurna, Doktor Baru UNJ Bedah Nestapa Perempuan Migran di Pusaran Prostitusi Kota

Channel9.id-Jakarta. Urbanisasi kerap kali menyisakan cerita kelam bagi mereka yang kalah bertarung di kerasnya ibu kota. Alih-alih mendapat kesejahteraan, tidak sedikit perempuan migran justru terjebak dalam jeratan prostitusi perkotaan akibat minimnya perlindungan sosial.

Fenomena memprihatinkan inilah yang dikupas tuntas oleh Syaifudin, dosen Program Studi Pendidikan Sosiologi sekaligus Kepala Kantor Humas dan Informasi Publik Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Lewat riset mendalamnya, Syaifudin resmi menyandang gelar Doktor dengan raihan IPK sempurna 4,00 (Predikat Pujian) dari Prodi S3 Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) Sekolah Pascasarjana UNJ.

Dalam Ujian Promosi Doktor yang digelar di Auditorium Sekolah Pascasarjana UNJ, Senin (15/6/2026) lalu, Syaifudin sukses mempertahankan disertasinya yang bertajuk “Dari Urbanisasi ke Ekovokasi: Rekonstruksi Hak Atas Kota bagi Perempuan Migran dalam Jeratan Prostitusi Perkotaan.” Hebatnya lagi, studi berbobot ini berhasil ia rampungkan dalam waktu singkat, yakni 5 semester lebih 5 bulan.

Ironi Kota Besar: Subur Ekonomi, Gagal Lindungi Kaum Rentan

Syaifudin mengungkapkan bahwa riset kualitatif kritis ini berangkat dari kegelisahannya melihat ketimpangan nyata di perkotaan. Pembangunan kota modern saat ini dinilai terlalu fokus pada pertumbuhan ekonomi dan kapitalisasi ruang, namun abai terhadap aspek kemanusiaan.

Akibatnya, muncul fenomena yang ia sebut sebagai urbanization of inequality—sebuah kondisi di mana urbanisasi justru melahirkan jurang pemisah sosial yang makin lebar dan memojokkan kelompok rentan ke sektor informal yang berisiko tinggi.

“Kota yang inklusif bukan hanya menyediakan ruang fisik bagi warganya, tetapi juga menjamin akses terhadap pekerjaan layak, perlindungan sosial, dan kesempatan untuk hidup secara bermartabat,” tegas Syaifudin.

Lebih jauh, ia juga menemukan adanya fenomena disconnected citizenship. Artinya, secara administratif para perempuan migran ini diakui sebagai warga kota, namun secara substantif hak-hak sosial, ekonomi, dan politik mereka justru terputus. Hal inilah yang membuat mereka terisolasi dan sulit keluar dari lingkaran setan kemiskinan.

Tawarkan Solusi Lewat Konsep ‘Ekovokasi’

Sebagai antitesis dari masalah kronis tersebut, Doktor baru UNJ ini menawarkan sebuah formula baru yang disebut Ekovokasi (Ekosistem Advokasi-Vokasi).

Konsep ini bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan sebuah pendekatan transformatif yang mengintegrasikan berbagai aspek penting untuk memulihkan martabat kaum marginal di perkotaan, di antaranya:

  • Advokasi dan rehabilitasi sosial
  • Jaminan dan perlindungan sosial berkelanjutan
  • Pemberdayaan ekonomi warga
  • Penguatan keterampilan vokasional yang nyata

Sidang promosi doktor yang melahirkan konsep krusial ini dipimpin langsung oleh Wakil Direktur Bidang Akademik SPs UNJ, Prof. Arita Marini, bersama Sekretaris Sidang Prof. Henita Rahmayanti. Jajaran penguji yang menguji pemikiran Syaifudin pun bukan kaleng-kaleng, melibatkan Ketua Senat Akademik UNJ Prof. Ahman Sya, Prof. Muhammad Faesal, hingga Rektor Universitas Teknologi Muhammadiyah Prof. Agus Suradika selaku penguji eksternal. Sementara posisi Promotor dikawal oleh Prof. Agung Purwanto dan Prof. Budiaman.

Kebaruan (novelty) yang dibawa oleh Syaifudin ini diharapkan bisa menjadi tamparan sekaligus kompas baru bagi para pembuat kebijakan. Sudah saatnya pembangunan kota besar di Indonesia bermutasi menjadi ruang hidup yang lebih inklusif, ramah gender, dan berkeadilan sosial.

Baca juga: Dies Natalis ke-62, UNJ Pamerkan Inovasi Saintek hingga Seni Lewat UNJ Expo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2  +  1  =