Channel9.id-Jakarta. Dunia entertainment Indonesia melahirkan grup musik yang punya semangat berkarya lagu. Dari sebuah sudut di pinggir rel kereta api Cibinong, Bogor, lahir sebuah karya yang tidak hanya sekadar harmoni, tetapi juga manifestasi keresahan sosial. Atsmosphere, grup band blues and rock n roll yang tumbuh dari kultur tongkrongan, resmi merilis album penuh kedua mereka berjudul ‘Oposisi’ pada 3 April 2026.
Perjalanan Atsmosphere bermula pada 2022 di sebuah ruang kreatif bernama “Train Space”. Berawal dari kebiasaan bernyanyi bebas dan petikan gitar di tongkrongan, sang gitaris, Belzz, mengajak Yaman pada vokal untuk menseriusi karya mereka. Kehadiran Ba Syaras kemudian melengkapi formasi ini hingga melahirkan EP perdana bertajuk Negative Blues.
Album Oposisi menjadi babak baru yang lebih berani bagi Atsmosphere. Jika sebelumnya mereka berkutat pada keresahan individu, kali ini mereka memperluas cakrawala dengan membedah isu politik lokal hingga global. Musik mereka menjadi medium untuk meraba dan menyuarakan jeritan kaum minoritas yang seringkali terbatas ruang geraknya.
“Mereka ingin semua bebas berekspresi walaupun tinggal di negara yang terkadang selalu ada batasan, apalagi soal speak up kritik,” ujar Belzz mengenai esensi di balik album ini.
Proses produksi album ini dilakukan secara mandiri di bawah bendera ZZRecord, label yang mereka bangun sendiri. Belzz memegang kendali penuh sebagai produser, komposer, hingga menangani proses mixing dan mastering. Sentuhan emosional dalam lirik diperkuat oleh kontribusi Ba Syaras, sang manajer yang juga dikenal dengan gaya penulisan puitisnya.
Peluncuran Oposisi sebenarnya dijadwalkan pada September 2025. Namun, perjalanan menuju platform digital tidaklah mulus.
Atsmosphere harus menghadapi kendala teknis dengan pihak agregator terkait judul lagu dan album yang dianggap sensitif. Setelah melalui proses panjang, album ini akhirnya mendapatkan persetujuan dan kini sudah dapat dinikmati di berbagai layanan streaming musik.
Oposisi bukan sekadar album musik, melainkan sebuah catatan sejarah dari pinggiran kota tentang keberanian untuk tetap jujur dan eksploratif di tengah batasan yang ada.
Kontributor: Akhmad Sekhu





