Channel9.id-Jakarta. Ketua MPR RI Ahmad Muzani membagikan pengalaman lawatan delegasi resmi Indonesia ke Iran dalam diskusi bersama akademisi, analis, dan pengamat Timur Tengah di kediaman dinas Ketua MPR, Jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan, Selasa malam.
Muzani mengungkapkan, keberangkatan delegasi sempat diwarnai ketidakpastian. Saat pesawat yang membawa dirinya bersama Menteri Luar Negeri Sugiono hendak lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Duta Besar RI untuk Iran belum dapat memastikan apakah pesawat dapat mendarat di Kota Mashhad.
“Namun, jika tetap terbang silakan,” kata Muzani menirukan pesan yang diterimanya sebelum keberangkatan.
Setelah tiba di Mashhad, delegasi Indonesia disambut oleh pemerintah Iran. Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, pemerintah Iran menyampaikan rencana mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke negara tersebut.
“Hal itu disampaikan pihak Iran dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf di Kota Mashhad,” ujar Muzani.
Menurut Muzani, jika kunjungan tersebut terlaksana, Prabowo akan melanjutkan tradisi hubungan bilateral Indonesia-Iran yang telah dibangun para presiden sebelumnya. Ia menyebut, dari tujuh presiden Indonesia terdahulu, hanya Presiden B.J. Habibie yang belum pernah melakukan kunjungan kenegaraan ke Iran.
Muzani juga mengungkapkan bahwa Prabowo pernah berkunjung ke Iran pada tahun 2000 dan bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
“Saya menemani beliau. Waktu itu kunjungan tidak resmi sebagai pebisnis. Mereka mengatakan sedang mencari dokumentasinya, pasti ada,” katanya.

Delegasi resmi Indonesia yang berkunjung ke Iran terdiri atas Ketua MPR Ahmad Muzani, Menteri Luar Negeri Sugiono, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, serta Ketua Bidang Hubungan dan Kerja Sama Internasional PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni.
Menanggapi pertanyaan mengenai waktu kedatangan delegasi Indonesia yang berbeda dengan negara lain, Muzani menjelaskan Indonesia memang memperoleh jadwal khusus dari pemerintah Iran.
“Kami diberi waktu tanggal 10 Juni, sehari setelah pemakaman,” ujarnya.
Ia menilai perlakuan tersebut menunjukkan posisi Indonesia yang istimewa di mata Iran. Menurutnya, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, hingga penjaga Kompleks Makam Imam Ali Ridha di Mashhad, Ayatollah Ahmad Marvi, secara khusus mengapresiasi kehadiran delegasi Indonesia yang menempuh perjalanan sekitar 6.800 kilometer dari Jakarta ke Mashhad.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah mengirim Duta Besar RI untuk Iran Rolliansyah Soemirat untuk menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Rolliansyah hadir pada 4 Juli di luar jadwal yang diberikan kepada delegasi resmi dari berbagai negara.
Muzani mengatakan, lawatan delegasi Indonesia berlangsung sekitar 12 jam.
“Kami tiba di Mashhad pukul 09.00 pagi dan bertolak pulang pukul 21.00 malam,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri Sugiono menggelar pertemuan tertutup dengan Menlu Iran Abbas Araghchi saat makan siang di hotel tempat delegasi Indonesia menginap. Setelah itu, pembicaraan dilanjutkan dengan Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf yang dipimpin langsung oleh Muzani.
Selain menyampaikan undangan kepada Presiden Prabowo, pemerintah Iran juga menawarkan kerja sama di berbagai bidang, termasuk sektor pertahanan dan industri persenjataan.
Dalam diskusi bersama para akademisi dan pengamat Timur Tengah, Muzani meminta pandangan mengenai tawaran tersebut. Para peserta pada prinsipnya mendukung penguatan kerja sama Indonesia-Iran, namun mengingatkan agar langkah tersebut tetap mempertimbangkan dinamika geopolitik global, termasuk hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat di tengah memanasnya situasi di kawasan Timur Tengah.
Diskusi tersebut turut dihadiri sejumlah anggota Komisi I DPR RI serta Ketua Fraksi Partai Gerindra DPR RI Budisatrio Djiwandono.





