Channel9.id, Pangkajene dan Kepulauan. Citra Nur Ramadhani tak lahir dengan ‘sendok emas’ di mulutnya. Ia tumbuh penuh keterbatasan bersama kakak dan adiknya. Ibunya penyandang disabilitas yang bekerja sebagai penyapu masjid dan buruh cuci. Sementara ayahnya sudah wafat dua tahun lalu, saat Citra baru berusia 8 tahun.
Di usia belia, Citra terpaksa menanggung beban ekonomi rumah tangga. Karena kondisinya, ia juga mendapatkan perundungan. Demi membantu keuangan keluarga, ia pun berjualan kacang bungkus sambil sekolah.
“Dulu saya menjual kacang, kacang bungkusan. Supaya tidak ada yang bully lagi di sekolah dan bisa membantu orang tua. Saya tinggal di rumah sama nenek, kakak, adik, saya, mamak,” kata Citra dalam wawancara dengan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, dikutip Rabu (12/8).
Namun, kini Citra yang berusia 10 tahun tak perlu lagi berjualan kacang bungkus setelah menjadi siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 67 Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Ia juga tak lagi merasakan perundungan di sekolah, sehingga bisa mengikuti pembelajaran dengan baik.
“Sekolah di sini saya tidak pernah di-bully, teman-teman saya di sini pada baik semua,” ucapnya.
Tak hanya itu, Citra makin bersinar karena bakatnya tersalurkan dengan maksimal. Di Sekolah Rakyat, ia mengikuti kegiatan karate hingga menjadi perwakilan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) dalam kejuaraan yang diselenggarakan di Kota Makassar. Citra keluar sebagai juara 2.
“Dulu aku ikut lomba karate di Makassar mewakili Pangkep. Terus aku juara dua, aku senang banget bisa mendapatkan juara dua,” tuturnya.
Maysaroh, Wali Asuh Citra di Sekolah Rakyat Terintegrasi 67, pun mengaku bangga dengan perkembangan Citra di sekolah. Menurutnya, Citra merupakan siswi yang penuh semangat dan selalu terdepan dalam menghafal pelajaran.
“Citra itu yang paling semangat sekali untuk belajar, untuk mau tahu segala hal. Lalu, dia juga yang paling suka menghafal, menghafal pelajaran. Dia salah satu anak wali saya yang paling cepat diberi tugas buat hafal, dia yang paling cepat menyetor hafalannya lagi,” ucap Maysaroh atau yang biasa disapa Nou.
Nou ingin Citra tumbuh dengan baik dan meraih kesuksesan di masa depan. Ia berharap lingkungan Sekolah Rakyat mengantarkan Citra menuju keemasan.
“Meski kamu tumbuh bersama ibu tunggal, ibu berharap, ibu yakin, almarhum ayah di sana, di atas sana, pasti sudah sangat senang, bangga melihat Citra berada di lingkungan Sekolah Rakyat,” katanya.





