Nasional

UNJ Pelajari Strategi Azwar Anas Mentransformasi Banyuwangi

Channel9.id – Banyuwangi. Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mempelajari pengalaman dan strategi transformasi Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sebagai referensi pengembangan institusi di era Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Pembelajaran tersebut disampaikan Abdullah Azwar Anas dalam Seminar dan Lokakarya (Semiloka) yang dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Jumat, 25 September 2026.

Semiloka diikuti jajaran pimpinan UNJ dengan menghadirkan Abdullah Azwar Anas sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia berbagi pengalaman mengenai transformasi Banyuwangi, kepemimpinan, inovasi, penguatan identitas, strategi komunikasi, serta pengembangan program berbasis prioritas.

Azwar Anas, yang menjabat Bupati Banyuwangi selama dua periode, yakni 2010–2015 dan 2016–2021, menjelaskan bahwa transformasi institusi dapat dilakukan dengan mempelajari praktik baik dari berbagai pihak. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah metode ATM, yaitu Amati, Tiru, dan Modifikasi.

Menurutnya, UNJ dapat mempelajari praktik baik dari perguruan tinggi yang telah memiliki reputasi, memilih pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan institusi, kemudian memodifikasinya berdasarkan karakter, potensi, dan tujuan pengembangan kampus.

Selain strategi pengembangan, Azwar Anas menekankan pentingnya identitas sebagai bagian dari transformasi. Pengalaman Banyuwangi menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus ditandai dengan pembangunan fisik yang mahal. Kekayaan alam, budaya, dan karakter daerah dapat menjadi identitas yang membedakan suatu daerah sekaligus menjadi modal pengembangan.

Dalam pengembangan sejumlah landmark Banyuwangi, pemerintah daerah melibatkan arsitek Andra Matin untuk pengembangan bandara serta Adi Purnomo untuk pendopo dan guesthouse. Pendekatan tersebut menghasilkan karya yang memadukan fungsi, lingkungan, dan identitas budaya.

“Bagus tidak harus mahal, yang penting bersih. Arsitektur harus memiliki penanda budaya,” ujar Azwar Anas, yang juga pernah menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi periode 2022–2024.

Azwar Anas, yang merupakan alumni Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ, turut menyoroti pentingnya peran pemimpin dalam membangun reputasi dan memperkenalkan keunggulan institusi. Menurutnya, pimpinan perguruan tinggi, termasuk rektor, Majelis Wali Amanat (MWA), dan Senat Akademik Universitas, perlu terlibat aktif dalam mengomunikasikan potensi dan capaian institusi kepada masyarakat.

“Setiap pemimpin harus jadi marketer. Kalau Bapak tidak memasarkan produk yang dibuat, Bapak tidak akan mendapatkan kesempatan,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa strategi komunikasi perguruan tinggi perlu menyesuaikan perkembangan teknologi dan karakter generasi muda. Pemanfaatan berbagai platform digital, seperti Instagram, WhatsApp, dan TikTok, menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan informasi sekaligus memperkenalkan keunggulan institusi.

Bagi UNJ, pendekatan tersebut dapat diterapkan untuk memperkenalkan capaian akademik, inovasi, program kemitraan, serta kontribusi kampus kepada masyarakat secara lebih luas.

Azwar Anas juga membagikan pengalaman Banyuwangi dalam menentukan prioritas pembangunan dengan menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor penggerak yang didukung berbagai perangkat daerah. Sektor pendidikan, pekerjaan umum, hingga pertanian diarahkan untuk berkontribusi terhadap pengembangan pariwisata secara terpadu.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi pendekatan penting agar program pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi memiliki arah dan tujuan yang sama.

Ia turut memaparkan sejumlah perkembangan Banyuwangi selama masa kepemimpinannya. Angka kemiskinan yang berada di kisaran 20,4 persen pada 2010 disebut menurun menjadi 8,6 persen. Sementara itu, pendapatan per kapita masyarakat meningkat dari sekitar Rp14 juta menjadi Rp60 juta.

Rektor UNJ, Prof. Komarudin, mengatakan pengalaman Banyuwangi memberikan perspektif penting bagi UNJ dalam merumuskan strategi pengembangan institusi sebagai PTN-BH.

“Banyak hal yang dapat kita pelajari dari pengalaman Banyuwangi, terutama bagaimana sebuah daerah membangun identitas, menentukan prioritas, menggerakkan kolaborasi, dan mengomunikasikan capaian kepada publik. Prinsip-prinsip tersebut relevan untuk kita adaptasi dalam pengembangan UNJ sebagai PTN-BH,” ujar Prof. Komarudin.

Menurutnya, transformasi institusi membutuhkan arah yang jelas, kerja bersama, serta kemampuan membaca potensi yang dimiliki. Pembelajaran dari berbagai praktik baik dapat menjadi referensi bagi UNJ untuk menyusun langkah pengembangan yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan kampus.

“Semiloka ini menjadi ruang bagi pimpinan UNJ untuk memperluas perspektif dan melihat pengalaman pembangunan dari sudut pandang yang lebih luas. Kita ingin mengambil pelajaran yang relevan, mengadaptasinya dengan konteks UNJ, dan menjadikannya bagian dari langkah menuju universitas yang berdampak, inklusif, dan bereputasi global. Selain itu, MoU antara UNJ dan Pemkab Banyuwangi yang terjalin akan ditindaklanjuti melalui rencana kerja sama pendirian Labschool boarding berbasis agama,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, UNJ memperoleh referensi mengenai strategi transformasi Banyuwangi sekaligus ruang refleksi bagi jajaran pimpinan dalam merumuskan arah pengembangan institusi. Penguatan identitas, penentuan prioritas, kolaborasi lintas unit, inovasi, dan komunikasi publik menjadi aspek yang dapat diadaptasi untuk mendukung tata kelola dan daya saing UNJ sebagai perguruan tinggi negeri berbadan hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

86  +    =  88