Hot Topic

Momen Haru Orang Tua Neeltje Saksikan Putrinya Bawa Baki Bendera di Istana

Channel9.id – Jakarta. Momen penurunan bendera Merah Putih pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026), menjadi pengalaman berkesan bagi keluarga Neeltje Deliana Insjowi Werimon, anggota Paskibraka asal Provinsi Papua.

Kedua orang tua Neeltje, Aiwoisendin Hendrik Werimon dan Steffi Edithya Florence Awom, untuk pertama kalinya datang ke Istana sekaligus menyaksikan langsung putri mereka menjalankan tugas sebagai pembawa baki Bendera Merah Putih.

Bagi Aiwoisendin, kehadiran di Istana memberikan pengalaman baru karena selama ini ia hanya menyaksikan rangkaian upacara kenegaraan tersebut melalui televisi. Ia mengaku kagum setelah melihat langsung suasana Istana.

“Selama ini kita selalu nonton dari TV. Jadi pertama lihat ini, ‘Eh, ini kayak di TV begini.’ Jadi luar biasa. Kami cukup kagum dengan melihat kenyataan dari Istana ini,” ujar Aiwoisendin, sebagaimana disiarkan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Selasa (18/8/2026).

Kebanggaan Aiwoisendin bertambah karena kesempatan tersebut juga membuatnya dapat bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto. Ia mengapresiasi kesempatan yang diberikan kepada para anggota Paskibraka untuk menjalankan tugas dalam upacara kenegaraan.

“Kepada Pak Presiden, terima kasih untuk kesempatan ini yang diberikan kepada anak-anak kami,” katanya.

Ia juga berharap Presiden Prabowo selalu dalam kondisi sehat dan dapat mengambil keputusan terbaik bagi bangsa dan negara.

“Kami berharap Bapak selalu sehat dan dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk bangsa dan negara,” ujarnya.

Perjalanan Neeltje hingga terpilih menjadi Paskibraka juga menjadi cerita tersendiri bagi keluarga. Aiwoisendin mengatakan, keputusan Neeltje mengikuti Paskibraka sempat mengejutkan karena sebelumnya putrinya tidak menunjukkan ketertarikan terhadap kegiatan tersebut.

“Kita sangat kaget saat dia memilih untuk mengikuti Paskibraka, karena dia sebelumnya tidak tertarik dengan kegiatan itu. Dan saat dia SMA dan dia memutuskan untuk mengambil itu, kami cukup kaget dan akhirnya kami mendukung,” tuturnya.

Dukungan keluarga kemudian diberikan selama Neeltje menjalani proses hingga bertugas di Istana. Aiwoisendin mengatakan orang tua hanya dapat memberikan doa dan berharap pengalaman yang diperoleh Neeltje menjadi bekal untuk masa depannya.

“Karena usahanya dia, kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan. Dan yang terbaik untuk Neeltje ke depannya nanti bisa Neeltje dapatkan,” katanya.

Sementara itu, Steffi menilai masa pemusatan latihan selama sekitar satu bulan menjadi salah satu bagian paling berat bagi keluarga. Selama masa tersebut, ia tidak dapat bertemu maupun berkomunikasi dengan putrinya.

“Selama kurang lebih satu bulan tidak ketemu itu hal yang paling berat sebenarnya. Tidak ketemu dan tidak berkomunikasi, itu hal yang paling berat,” kata Steffi.

Meski harus menjalani masa latihan tanpa komunikasi dengan keluarga, Steffi menilai Neeltje mampu melewati proses pembentukan fisik dan mental tersebut. Ia melihat kedisiplinan dan pembentukan karakter menjadi bagian dari proses yang harus dijalani para Paskibraka sebelum bertugas.

“Mereka juga harus menempa mental jadi lebih baik, disiplin, dan lain-lain. Karakter mereka dibentuk. Menurut saya mereka sukses melewati masa-masa berat itu dan bisa menjalankan tugas dengan baik,” ujarnya.

HT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5  +  1  =