Channel9.id – Jakarta. Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perumahan Hashim Djojohadikusumo mengingatkan agar hunian terjangkau dalam program pemerintah tidak dibeli dalam jumlah besar oleh pihak tertentu untuk kepentingan pribadi. Menurut dia, setiap masyarakat yang berminat harus memiliki kesempatan yang adil untuk mendapatkan hunian tersebut.
Hashim menilai potensi pembelian dalam jumlah besar perlu diantisipasi, terutama apabila hunian memiliki kualitas bangunan dan lokasi yang berpotensi mendorong kenaikan nilai properti.
“Kita sudah (jadi) orang Indonesia lama. Jangan nanti ada oknum nakal. Karena pasti kita lihat nanti apalagi mutunya begitu bagus. Lokasi dan mutu bagus nanti nilai tanah dan nilai apartemen akan meningkat tajam. Nah, orang-orang kan tidak bodoh. Ya, so ini yang kita minta betul-betul diperhatikan ya. Jangan diborong,” ujar Hashim dalam konferensi pers, Jumat (21/8/3026).
Ia juga meminta PT KAI (Persero) dan pengelola hunian terjangkau mengantisipasi pembelian yang dilakukan melalui nama orang lain. Praktik tersebut, kata Hashim, berpotensi membuat satu pihak menguasai banyak unit meski secara administratif tercatat atas nama orang berbeda.
“Dari 3.000 (unit), nanti orang tertentu beli 300 (unit), 500 (unit). Nanti titip siapa? Titip sopirnya. Atas nama sopirnya, atas nama office boy-nya. Kita akui ini sudah terjadi di sejarah Republik Indonesia,” jelasnya.
Karena itu, Hashim menekankan prinsip satu peminat untuk satu unit hunian agar program tersebut tetap menyasar masyarakat yang membutuhkan.
“Kita harus adil, satu pelanggan, satu peminat, satu apartemen,” imbuh Hashim.
Selain mencegah penguasaan hunian oleh pihak tertentu, Hashim menyoroti persoalan pemeliharaan bangunan setelah pembangunan selesai. Ia menilai aspek perawatan perlu menjadi perhatian sejak awal agar hunian tetap layak ditempati dalam jangka panjang.
“Titik lemah bangsa Indonesia, menurut saya, saya sudah berbisnis 40 tahun, saya sudah pimpin beberapa perusahaan industri, semen, petrokimia, dan lain-lain, bisnis migas, sudah lama. Titik lemah kita adalah perawatan, pemeliharaan,” katanya.
Hashim berharap hunian yang dibangun melalui program pemerintah tidak hanya memiliki kualitas baik saat diserahkan, tetapi juga tetap terawat pada tahun-tahun berikutnya. Ia bahkan berharap kondisi apartemen tersebut masih baik ketika Presiden Prabowo Subianto kembali meninjau proyek itu sekitar 10 tahun mendatang.
“Mudah-mudahan 10 tahun lagi, Pak Prabowo bisa berkunjung ke sini, didampingi oleh Pak Ara dan Pak Bobby, kita melihat bahwa nanti apartemen yang kita bangun bersama, itu nanti kondisinya bagus,” terangnya.
Ia mengingatkan agar persoalan seperti bangunan berkarat dan kebocoran tidak muncul akibat buruknya pemeliharaan. Menurut Hashim, masyarakat sebagai pemilik hunian akan menjadi pihak yang paling dirugikan apabila perawatan tidak dilakukan secara berkelanjutan.
“Yang kasihan kan rakyat kita. Yang keluarkan uang untuk beli. Tapi ini ada tantangan kita,” pungkas Hashim.
HT




