Olivia Zalianty Ungkap Tantangan Jaga Konsistensi Pemain di Lakon ‘Meradjoet Sendja’
Lifestyle & Sport

Olivia Zalianty Ungkap Tantangan Jaga Konsistensi Pemain di Lakon ‘Meradjoet Sendja’

Channel9.id-Jakarta. Menyutradarai sebuah pertunjukan teater tentu ada tantangan tersendiri. Demikian dengan Olivia Zalianty dalam menyutradarai pertunjukan teater ‘Meradjoet Sendja’ yang tidak hanya sekadar membawa kisah tokoh-tokoh bangsa ke atas panggung, tetapi juga menjadi wadah penyatuan pemikiran, musik, dan akting dalam satu harmoni. Namun, di balik kemegahannya, menjaga konsistensi pemain menjadi tantangan utama bagi tim produksi dalam proses pementasan yang berlangsung pada 26 Agustus 2026 ini.

Olivia Zalianty mengungkapkan bahwa menyatukan banyak pemain dengan latar belakang karakter dan pengalaman yang berbeda dalam waktu terbatas bukanlah perkara mudah. Baginya, tantangan terbesar adalah mempertahankan energi dan mood pemain agar tidak memudar selama proses latihan hingga hari pertunjukan.

“Kalau saya, tantangannya itu menjaga para pemain itu sendiri. Jangan sampai kabur perlahan-lahan,” ujar Olivia.

Lebih lanjut, Olivia menerangkan bahwa pemilihan pemeran tokoh sejarah, seperti Bung Karno, merupakan pekerjaan krusial yang menentukan keberhasilan pesan pementasan tersebut.

Tantangan ganda dirasakan oleh Marcella Zalianty yang berperan sebagai produser sekaligus pemain. Marcella mengaku harus membagi fokus secara ekstra antara urusan teknis penyutradaraan di belakang panggung dan pendalaman karakter yang ia mainkan. Ia memerankan sosok perempuan yang feminin dan pemalu, namun memiliki ketegasan saat marah.

“Kalau tantangannya pertama, sudah pasti merangkap-merangkap itu kalau mainnya yang paling sulit. Apalagi kalau sudah mau di backstage, aku jadi takut lupa sama dialogku,” ungkap Marcella.

Dari sisi pemeran, Tanta Ginting yang memerankan Tan Malaka dan Lutfi Ardiansyah sebagai Sutan Sjahrir juga menghadapi kendala waktu latihan yang singkat.

Tanta harus mendalami karakter melalui literatur tulisan untuk membentuk emosi, sementara Lutfi lebih berfokus menyampaikan gagasan pemikiran tokoh daripada sekadar kemiripan fisik.

Sektor musik pun tidak luput dari tekanan. Penyanyi Fryda Lucyana mengaku hanya memiliki waktu satu hari untuk berlatih lagu-lagu baru yang belum familiar.

Sementara itu, Dira Sugandi dan Jane Callista menyoroti kesulitan teknis pada nada-nada tinggi dan lirik puitis yang menuntut penyampaian emosi perjuangan secara mendalam kepada audiens.

Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan teknis dan waktu, pertunjukan teater Meradjoet Sendja tetap berupaya menjadi jembatan warisan sejarah bagi generasi muda.

Proses kreatif ini menjadi bukti upaya kolektif dalam merajut kembali pemikiran bangsa melalui seni pertunjukan.

Kontributor: Akhmad Sekhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5  +  3  =