Channel9.id, Jakarta. Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan bahwa pendidikan tidak semata-mata merupakan proyek pembangunan sumber daya manusia, tetapi juga menjadi investasi peradaban bangsa yang menentukan keberlanjutan nilai dan cita-cita Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Ahmad Muzani dalam sambutannya pada Global Islamic Holistic Education Summit bertajuk “Exploring and Revealing the Islamic Education System” di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Muzani, salah satu tujuan utama Indonesia bernegara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, makna mencerdaskan bangsa tidak dapat dipersempit hanya pada aspek pendidikan formal.
“Mencerdaskan seperti kita pahami dalam Pembukaan UUD 1945 itu bukan sekadar proyek pendidikan dalam kehidupan kita dalam berbangsa. Pendidikan adalah investasi peradaban,” ujar Muzani dalam sambutannya.
Ia menilai pendidikan memiliki peran strategis untuk memastikan nilai, pengetahuan, dan jalan yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Pendidikan adalah jalan untuk memastikan bahwa jalan yang diwariskan bangsa dapat diteruskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Karena itu, Muzani mengatakan konsep mencerdaskan kehidupan bangsa perlu dipahami dalam kerangka pendidikan holistik, yakni pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, nilai, dan kontribusi peserta didik bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Muzani juga menyinggung peran pendidikan pesantren dalam membangun peradaban. Ia menyebut gagasan yang disampaikan sejumlah pembicara, termasuk Kyai Akrim dan Profesor Amid Fahmi, menunjukkan bahwa sistem pendidikan pesantren telah memberikan warisan penting bagi Indonesia.
Menurutnya, pengalaman pendidikan pesantren menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana sistem pendidikan dapat berkontribusi terhadap pembentukan peradaban sejak awal.
“Yang disampaikan pembicara dulu, Kyai Akrim atau Profesor Amid Fahmi, adalah sebuah bentuk nyata pendidikan pesantren telah mewariskan kepada kita bagaimana peradaban dibentuk dari awal,” ujar Muzani.
Muzani kemudian mengangkat perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai salah satu contoh bagaimana visi pendidikan dapat berkembang menjadi sebuah gagasan yang melampaui batas institusi dan bangsa.
Ia menyinggung tekad yang menjadi bagian dari semangat Gontor, yakni “Dari Gontor untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia, dari santri untuk kemanusiaan.”
Menurut Muzani, semangat tersebut merupakan bagian dari ikhtiar pendidikan holistik yang pada akhirnya dapat menjadi fondasi bagi pembangunan peradaban di masa mendatang.
“Jika dalam 100 tahun Gontor salah satu tekadnya, dari Gontor untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia, dari santri untuk kemanusiaan, adalah bentuk tekad pendidikan holistik ini bisa menjadi sebuah bangunan peradaban pada masa yang akan datang,” tuturnya.
Ia berharap berbagai upaya dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam yang holistik dapat memberikan manfaat luas bagi bangsa dan dunia.
“Mudah-mudahan semua ikhtiar itu Allah ridhoi,” kata Muzani.




