Channel9.id – Jakarta. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Vladivostok, Rusia, diarahkan untuk membuka peluang ekonomi bagi Indonesia. Diplomasi tersebut mencakup upaya memperluas perdagangan, menarik investasi, serta memperkuat kerja sama pangan dan energi.
Qodari menyebut kunjungan Prabowo ke Rusia merupakan bagian dari penerapan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang menurutnya harus berorientasi pada kepentingan nasional. Prinsip tersebut menjadi landasan Indonesia dalam menjalankan hubungan luar negeri sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Indonesia harus hadir, berbicara, dan memperjuangkan kepentingan nasional secara aktif,” kata Qodari dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
Menurut Qodari, Rusia memiliki posisi strategis dari sisi geopolitik dan sumber daya alam. Karena itu, agenda Prabowo di negara tersebut tidak hanya dipandang sebagai kunjungan diplomatik, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun kerja sama yang dinilai dapat memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia.
“Bagi Presiden Prabowo, setiap agenda kunjungan luar negeri selalu diarahkan sebagai bagian dari upaya mencari solusi, membuka peluang ekonomi, dan membawa manfaat nyata kembali ke Indonesia,” ujarnya.
Salah satu agenda Prabowo di Rusia adalah menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok sebagai tamu kehormatan. Dalam forum yang turut dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin itu, Prabowo mengajak pelaku usaha global untuk menanamkan modal dan menciptakan nilai tambah di Indonesia.
Pemerintah juga mendorong peningkatan nilai perdagangan bilateral dengan Rusia apabila kerja sama perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia resmi berlaku. Kerja sama tersebut dinilai dapat menjadi peluang untuk memperluas pasar dan mendorong aktivitas ekonomi di dalam negeri.
“Semakin besar peluang ekonomi yang dibuka melalui diplomasi, semakin besar pula potensi terciptanya investasi, lapangan kerja, penguatan industri nasional, serta ketahanan ekonomi Indonesia,” kata Qodari.
Selain perdagangan dan investasi, pemerintah menaruh perhatian pada kerja sama pangan dan energi. Dalam pertemuan dengan pihak Rusia, Prabowo disebut mengajak negara tersebut memperkuat kolaborasi di kedua sektor tersebut yang berkaitan dengan ketahanan nasional.
Qodari menilai diplomasi ekonomi dapat memberikan dampak lebih luas apabila peluang kerja sama yang dibuka berujung pada investasi, penciptaan lapangan kerja, penguatan industri dalam negeri, serta peningkatan ketahanan ekonomi.
“Langkah tersebut merupakan bagian dari diplomasi Indonesia untuk membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di dalam negeri,” tuturnya.
Ia menambahkan, diplomasi luar negeri dan penyelesaian persoalan domestik tidak perlu dipandang sebagai dua agenda yang terpisah. Menurutnya, keduanya dapat berjalan beriringan ketika kebijakan luar negeri diarahkan untuk mendukung kepentingan nasional.
“Oleh karena itu, bagi Indonesia, mengatasi tantangan di dalam negeri dan memperjuangkan kepentingan nasional melalui diplomasi bukanlah dua hal yang bertentangan,” ujar Qodari.
“Keduanya merupakan tugas yang dijalankan secara bersamaan, saling melengkapi, dan bertujuan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia,” imbuhnya.
Qodari menegaskan bahwa manfaat bagi masyarakat menjadi salah satu tujuan yang ditekankan pemerintah dalam menjalankan diplomasi. Dengan pendekatan tersebut, politik luar negeri bebas aktif tidak hanya ditempatkan dalam konteks hubungan geopolitik, tetapi juga sebagai sarana untuk membuka akses pasar, investasi, penguatan industri, serta ketahanan pangan dan energi.
“Bagi pemerintah, masyarakat Indonesia harus menjadi penerima manfaat utama dari setiap upaya diplomasi,” pungkas Qodari.
HT




