Nasional

PSEL Bogor Raya Jadi Percontohan Nasional, Bisa Kelola Sampah 1.500 Ton Sehari

Channel9.id, Bogor. Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mendorong agar Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 yang baru saja diresmikan pembangunannya bisa menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mengatasi permasalahan sampah.

Perlu diketahui, PSEL Bogor Raya ini dikembangkan dan dijalankan oleh Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) Nusantara Bogor New Energy.

Per harinya, fasilitas ini diproyeksi menangani hingga 1.500 ton sampah di kawasan Desa Galuga, Kabupaten Bogor, menjadi energi listrik.

Menurut Bima Arya, sampah adalah persoalan menahun yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menjadi penyebab berbagai persoalan, mulai dari sumber penyakit hingga banjir yang bisa berdampak luas. Apalagi, Bogor adalah salah satu kota tujuan wisata favorit yang sampahnya bisa mencapai 4.000 ton per hari.

“Masalah sampah di Bogor Raya ini, masalah yang pelik dari wali kota ke wali kota dan dari bupati ke bupati. Total mungkin bisa sampai 4.000 ton sampah per hari dari dua daerah ini yang sulit diselesaikan secara total,” ujar Bima dalam Peresmian Pembangunan PSEL Bogor Raya 1, Kamis (17/9).

Oleh sebab itu, program PSEL dinilai menjadi momen bersejarah yang sangat penting untuk mengatasi permasalahan sampah. Ia berharap program tersebut bisa berjalan dengan baik sesuai dengan rencana yang telah disusun pemerintah.

“Tentunya groundbreaking ini bukan fase akhir, it is only the beginning, ini hanya awal saja, bisa dikatakan ini ijabnya, ini janjinya tapi buktinya masih kita harus tunggu sampai proses ini berjalan,” katanya.

Bima juga ingin PSEL Bogor Raya menjadi contoh bagi banyak daerah untuk menyelesaikan permasalahan sampah di wilayah masing-masing. Sebab, program ini disusun untuk menjaga lingkungan yang berkelanjutan.

“Mudah-mudahan PSEL di Bogor Raya ini bisa menjadi benchmarking, contoh baik bagi pengelolaan sampah di kota-kota besar di Indonesia untuk menuju kota Indonesia masa depan. Kota yang bersih sesuai dengan cita-cita Bapak Presiden dan kota yang betul-betul bisa menjadi contoh dari kehidupan sehat,” jelasnya.

Ia juga meminta para pemimpin daerah untuk memastikan ekosistem dari hulu hingga hilir berjalan dengan baik, terutama memastikan pasokan hingga distribusi sampahnya berjalan dengan lancar di lapangan.

“Kami mendorong juga Pak Gubernur Jawa Barat memastikan bahwa koordinasi antaraprovinsi, kota-kota semua berjalan dengan baik,” tegasnya.

Kurangi Timbunan Sampah Selama 34 Tahun

Bupati Bogor Rudy Susmanto berharap kehadiran PSEL Bogor Raya dapat mengurai persoalan timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga yang telah berlangsung selama 34 tahun.

“Hari ini momentum yang sangat bersejarah dan kami pemerintah Kabupaten Bogor merasa haru, merasa bangga, TPA Galuga berdiri tahun 1992, 34 tahun berdiri, 8 pemimpin negeri ini baru sekarang akhirnya bangsa ini memiliki pengelolaan sampah secara modern,” kata Rudy.

Menurut Rudy, persoalan timbunan sampah di Galuga menjadi salah satu hal yang dipikirkan pemerintah daerah sejak awal kepemimpinannya. Namun, pemerintah kini memiliki solusi melalui pengelolaan sampah modern yang tidak hanya mengurangi timbunan, tetapi juga mengubah sampah menjadi sumber energi.

“Kami pun pada saat dilantik berpikir keras bagaimana caranya TPA Galuga, timbunan sampah 34 tahun bisa selesai. Ternyata apa yang kami pikirkan Presiden lebih dahulu memikirkan, bukan hanya pengelolaan sampah berubah menjadi pengelolaan sampah modern, pengelolaan sampah energi listrik,” jelasnya.

Rudy mengatakan pengolahan sampah nantinya tidak berhenti pada upaya mengurangi timbunan. Seiring sampah diproses dan terurai, pemerintah juga akan mendorong pemulihan kondisi lingkungan di sekitar kawasan Galuga.

“Pada saat sampahnya mulai terurai, sampahnya mulai diproses, maka kita berupaya bersama-sama mengembalikan kondisi lingkungan seperti awal mula sebelum TPA berdiri dan juga memberikan masa depan yang lebih baik kepada masyarakat Kabupaten Bogor,” imbuhnya.

Selain manfaat lingkungan dan energi, pembangunan PSEL Bogor Raya juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pemerintah Kabupaten Bogor telah berkomunikasi sejak awal pembangunan mengenai komitmen penyerapan tenaga kerja lokal ketika fasilitas tersebut mulai beroperasi.

“Nanti mungkin dalam waktu satu setengah tahun sampai dua tahun ke depan pabriknya selesai dibangun dan bisa beroperasi. Komitmen kita bersama-sama adalah tenaga kerja berasal dari masyarakat sekitar,” pungkas Rudy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8  +  1  =