OECD/EKONOMI
Ekbis

Laporan OECD: Permintaan Domestik Solid, Ekonomi Indonesia Diramal Tumbuh 5,2 Persen

Channel9.id, Jakarta – Di tengah ancaman gejolak harga komoditas global, eskalasi konflik geopolitik di Selat Hormuz, hingga risiko cuaca ekstrem El Niño, ketahanan ekonomi Indonesia terbukti menjadi salah satu yang paling solid di antara negara-negara anggota G20.

Laporan terbaru Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) bertajuk “OECD Economic Outlook, Interim Report September 2026” memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu melaju di level 5,2% pada 2026 dan 5,1% pada 2027. Tingkat inflasi domestik juga diperkirakan tetap terkendali, yakni di level 3,3% pada akhir tahun ini dan melandai ke 3% pada 2027.

Menurut OECD, kunci ketangguhan perekonomian Indonesia bersandar pada tingginya permintaan domestik serta intervensi kebijakan pemerintah yang efektif dalam meredam shock harga energi bagi rumah tangga dan dunia usaha.

“Langkah-langkah dukungan harga dari pemerintah berhasil mengurangi tekanan harga energi dan diperkirakan akan terus berlanjut dalam jangka pendek,” tulis laporan OECD, dikutip Senin (28/9/2026).

Bayang-Bayang Lonjakan Minyak US$105 dan Risiko El Niño

Proyeksi moderat bagi ekonomi global (PDB dunia tumbuh 2,9% pada 2026 dan 3% pada 2027) disusun di atas asumsi pasar berjangka komoditas yang cukup menantang.

OECD memperkirakan harga minyak mentah jenis Brent dan gas alam berjangka Dutch TTF akan mencapai puncaknya pada kuartal IV/2026, masing-masing menyentuh rata-rata US$105 per barel dan 82 euro per MWh. Lonjakan harga komoditas pangan global juga diperkirakan bakal memuncak pada kuartal II/2027, sekitar 11% lebih tinggi dibandingkan pertengahan 2026.

Tekanan pasokan energi tersebut dipicu oleh dinamika konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya potensi terganggunya jalur pelayaran vital di Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb.

Di luar faktor geopolitik, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) AS mengidentifikasi peluang sebesar 95% terjadinya fenomena El Niño yang sangat kuat pada periode Oktober – Desember 2026. Kondisi kekeringan ekstrem di wilayah produsen seperti Indonesia, Australia, dan India berpotensi menekan hasil panen pertanian, memicu inflasi harga pangan, serta mengganggu pasokan pupuk global dari negara-negara Teluk.

Di sisi lain, OECD menyoroti geliat aktivitas belanja dan investasi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai salah satu mesin pendorong utama pertumbuhan belanja modal di mayoritas negara G20.

Kendati demikian, OECD memberikan peringatan (warning) terkait meningkatnya ketergantungan perusahaan-perusahaan teknologi AI pada instrumen utang berisiko dan skema pembiayaan yang kompleks.

Jika monetisasi pendapatan dari produk AI melambat atau terjadi hambatan rantai pasok perangkat keras (hardware), investor dikhawatirkan mengalami krisis kepercayaan. Dampaknya berpotensi merembet ke sektor jasa teknik, konstruksi, hingga memicu koreksi tajam atas valuasi pasar keuangan global.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4  +  2  =