Channel9.id-Jakarta. Sebuah film tak hanya hiburan semata, tapi juga menyampaikan pesan. Demikian dengan film ‘Lobang Buaya’ garapan Hanung Bramantyo yang akan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 1 Oktober 2026 mendatang setelah tayang di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026 dan Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN).
Dalam sejumlah kesempatan, sang sutradara menyebut publik di luar negeri kaget karena filmnya menyinggung salah satu peristiwa besar dalam sejarah bangsa, Gerakan 30 September atau G30S, tapi disajikan dalam format genre horor.
Sebagai informasi, cerita film berlatar tahun 1964, setahun sebelum peristiwa 1965 meletus. Teror pembunuhan berantai mengguncang Desa Lobang Buaya, dan santer isu kehadiran setan perempuan sebelum pembunuhan terjadi.
Langkahnya membuat film menyinggung sejarah dalam genre horror. Hanung mengaku keputusan itu telah melewati pertimbangan panjang di benak Hanung.
“Awalnya, pilihan horor itu betul-betul sebuah genre yang membutuhkan pemikiran banget buat saya. Gimana nanti sikap dari penonton, gimana nanti sikap dari orang-orang ketika melihat film, apakah nanti menghubung-hubungkan dengan peristiwa demikian,” kata Hanung dalam konferensi pers yang digelar di Epicentrum XXI pada Jumat (25/9/2026).
Lebih lanjut, Hanung menerangkan film tersebut. “Terus kan pasti akan menuntut rasa empati saya. Kenapa sutradaranya kok membuat sebuah tragedi nasional seperti ini menjadi sebuah cerita horor. Nah, ini harus saya tekankan kepada teman-teman semua bahwa pilihan genre itu sebetulnya tidak ada hubungan dengan bagaimana saya punya sikap terhadap tragedi 30 September 1965 dan setelahnya,” terangnya.
Salah satu alasan Hanung membuat Lobang Buaya sebagai film horor ternyata berkaitan dengan alasan personal. Ia lahir pada 1 Oktober 1975, sepuluh tahun setelah peristiwa 1965, dan tumbuh di masa ketika film Pengkhianatan G30S PKI hadir di layar televisi setiap malam menjelang ulang tahunnya.
“Saya hidup dalam sebuah rezim di mana setiap malam ulang tahun saya selalu ada film horor yaitu Pengkhianatan G30S PKI. Kenapa saya sebut horor? Karena pada saat ditayangkan di TV, itu jam 7 sampai jam 11, semua televisi di Indonesia tidak boleh menayangkan selain film itu,” bebernya.
Hanung kemudian menceritakan interaksinya dengan ibunda kala itu. “Dan pada saat saya mau nonton, ibu saya mematikan televisi (lalu berkata), ‘Sudah jangan nonton’. ‘Kenapa?’ ‘Itu film serem’. Terus saya bilang itu kan film perjuangan?”
Karena penasaran, Hanung kecil akhirnya nonton di kamar sang nenek dengan sembunyi-sembunyi. “Dan memang serem,” kata Hanung.
Hanung menilai, ada alasan mengapa nuansa seram sengaja dibangun dalam film ini.
“Peristiwa 30 September 1965, enggak tahu kenapa, itu dibuat seram. Karena tujuannya untuk menakut-nakuti bahwa ideologi komunis adalah ideologi yang sangat berbahaya. Itu makanya pemerintah Orde Baru membuat tragedi itu menjadi horor dan terus dikonsumsi sampai hari ini,” kata dia.
Dan hal ini, dikaitkan Hanung dalam keputusannya untuk membuat Lobang Buaya sebagai film horor. “Itulah dasar bicara saya, kenapa saya membuat film horor,” jelasnya.
Ia juga mengungkap keresahanan terhadap tragedi kemanusiaan yang menyertai peristiwa tersebut. “Enggak cuma 7 perwira yang meninggal di Lobang Buaya, tapi 7 perwira itu semacam dijadikan trigger oleh pemerintah Orde Baru untuk menghilangkan atau melakukan pembunuhan massal.”
Karenanya, ia menilai ingatan atas peristiwa 30 September itu perlu terus dijaga lintas generasi. “Ini tidak boleh hilang dari ingatan kolektif, apalagi anak-anak muda sekarang, anak-anak saya,” ucapnya.
Film ‘Lobang Buaya’ berkisah tentang Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) seorang tentara yang ditugaskan untuk ikut menyelidiki peristiwa pembunuhan yang terjadi beruntun di Desa Lobang Buaya sepanjang 1964.
Para korban dalam cerita ditemukan tewas dengan punggung berlubang dan sayatan kata sindiran di tubuh mereka, memunculkan rumor tentang sosok “Hantu Bolong” di tengah tensi sosial desa yang kian memanas.
Kebetulan, ia dan istri sekaligus adik angkatnya, Arum Wangi (Carissa Perusset) hendak menjemput ayah mereka yang kini tengah sakit-sakitan (Mathias Muchus).
Namun setibanya di sana, Arum justru dihantui mendapat teror gaib dari sesosok wanita misterius. Apakah ada hubungannya dengan sosok Hantu Bolong di balik pembunuhan berantai Lobang Buaya?
Kontributor: Akhmad Sekhu




