Channel9.id, Jakarta – Penurunan populasi kelas menengah mengancam momentum pencapaian target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan pemerintah. Pasalnya, kelompok masyarakat ini merupakan motor utama penggerak konsumsi rumah tangga yang menyumbang porsi terbesar terhadap PDB nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia menyusut signifikan dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 46,7 juta jiwa pada 2025. Padahal, kelompok ini menopang lebih dari 80% dari total konsumsi rumah tangga nasional.
Direktur Komunikasi Strategis InFast Bestari, Bin Bin Firman Tresnadi, menegaskan perlunya langkah konkret untuk menahan penyusutan tersebut sekaligus membalikkan arah tren agar kelas menengah kembali bertumbuh secara kuantitas maupun kualitas.
“Dibutuhkan strategi pembiayaan terpadu dari sektor swasta, BUMN melalui Danantara dan Himbara, serta mitra pembangunan internasional guna membangun ekosistem ekonomi produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja layak dan bernilai tambah tinggi,” ujar Bin Bin dalam Simposium Strategi Percepatan Pertumbuhan 8%: Sinergi Fiskal dan Non-Fiskal di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Bin Bin menambahkan, sinergi fiskal dan non-fiskal berarti efisiensi belanja dan subsidi negara yang tepat sasaran, yang ditopang oleh perbankan, pasar modal, serta kemitraan pembangunan yang bergerak ke arah tujuan strategis sama.
Optimisme Penyaluran KUR Sektor Produksi
Guna memperkuat benteng ekonomi kelas menengah dan sektor usaha rakyat, pemerintah terus memacu penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM Riza Damanik mengungkapkan bahwa per 29 September 2026, realisasi KUR telah mencapai Rp237 triliun kepada lebih dari 3,6 juta debitur UMKM, dari total target Rp295 triliun pada 2026.
“Perkiraan kami pencapaian tahun ini akan melampaui capaian tahun lalu yang berada di kisaran 4 juta debitur. Sebanyak 511.000 debitur di antaranya merupakan UMKM yang berhasil naik kelas atau graduasi,” ungkap Riza.
Pemerintah juga berhasil menorehkan rekor baru dalam proporsi alokasi KUR ke sektor produksi. Per 29 September 2026, porsi KUR sektor produksi telah menyentuh 65% melampaui target awal 2025 sebesar 60% yang sebelumnya belum pernah menembus angka tersebut.
Penyaluran difokuskan pada sektor bernilai tambah tinggi seperti pertanian, perikanan, kuliner, tekstil, serta ekonomi kreatif yang menyerap Rp23 triliun untuk 400.000 UMKM. Pemerintah bahkan tengah menyiapkan uji coba pembiayaan Rp10 triliun dengan skema kolateral berbasis kekayaan intelektual (intellectual property).
Meski pertumbuhan ekonomi nasional masih mampu bertahan di atas 5%, Riza mengingatkan tantangan struktur ketenagakerjaan nasional yang masih didominasi sektor informal dengan jumlah mencapai lebih dari 80 juta orang serta angka pengangguran sebanyak 7,24 juta jiwa.
Fenomena Konsumsi Semu Kelas Menengah
Pada kesempatan yang sama, Direktur Riset dan Database InFast Bestari Hizkia Yosie Polimpung menyoroti fenomena kerentanan ekonomi yang dialami kelompok kelas menengah. Berdasarkan kajiannya, ekonomi nasional tumbuh sekitar 35% dalam 7 tahun terakhir, tetapi populasi kelas menengah justru berkurang 8,5 juta jiwa pada periode 2018 – 2023.
Yosie menjelaskan bahwa daya beli kelas menengah saat ini ditopang oleh stabilitas konsumsi yang bersifat semu (skimping dan little treat).
“Secara kuantitas konsumsi tampak terjaga mereka masih membeli skincare atau tiket konser, tetapi secara kualitas tergerus. Ketika terkena penyakit keras, ekonomi keluarga mereka langsung jatuh karena sangat bergantung pada upah,” jelas Yosie.
Untuk mempertahankan tingkat konsumsi, masyarakat kelas menengah cenderung menambah jam kerja, mengambil pekerjaan sampingan (double jobbing), hingga merotasi utang. Tekanan finansial ini bahkan berdampak pada pergeseran tren sosial, termasuk enggan menikah di kalangan generasi muda akibat pertimbangan ekonomi.
Oleh karena itu, percepatan pertumbuhan ekonomi menuju target 8% dinilai tidak cukup hanya mengandalkan sektor perdagangan, melainkan harus menyasar penguatan daya saing industri dan penciptaan lapangan kerja formal yang kokoh.



