Channel9.id-Jakarta. Band asal Bintaro, Tailwhip, resmi merilis album debut bertajuk Leftover Miscellaneously Placed Angst di seluruh platform streaming digital utama. Melalui sepuluh lagu di dalamnya, kuintet ini merangkai kisah tentang pertemanan, ingatan, kekecewaan, hingga proses menerima perasaan yang tertinggal dari masa lalu.
Bagi Tailwhip, Bintaro bukan sekadar lokasi tempat mereka tumbuh, melainkan ruang yang menyimpan berbagai pengalaman dan cerita yang terus hidup dalam ingatan. Tumbuh bersama di kawasan pinggiran Jakarta membuat mereka memiliki pengalaman serupa, meski setiap personel menyimpan sudut pandang dan kenangan yang berbeda.
Perbedaan itulah yang menjadi salah satu benang merah Leftover Miscellaneously Placed Angst. Sebuah kejadian yang sama bisa menjadi bahan tertawaan bagi seseorang, tetapi tetap menyisakan luka yang sulit dibicarakan bagi orang lain.
Tailwhip menyebut karakter musik mereka sebagai “Suburban Music”, sebuah identitas yang lahir dari pengalaman tumbuh di kawasan pinggiran dengan Jakarta Selatan sebagai tetangga yang dominan. Berada dekat dengan pusat keramaian, tetapi tidak sepenuhnya menjadi bagian dari hiruk-pikuknya, membentuk cara mereka memandang kehidupan dan menuangkannya ke dalam musik.
Album ini dibuka dengan eksplorasi perasaan yang belum sepenuhnya terdefinisi, termasuk bagaimana pengalaman masa lalu terus memengaruhi rutinitas sehari-hari. Mulai dari ingatan tentang seseorang di sebuah kamar hingga jawaban yang baru muncul menjelang tidur setelah pertengkaran berakhir, Tailwhip mengangkat momen-momen kecil yang kerap tertinggal dalam percakapan lama.
Sepanjang album, pendengar diajak menyusuri berbagai kontradiksi emosional. Rasa sayang tetap bertahan di tengah kekecewaan, sementara kemarahan perlahan dapat berubah menjadi kerinduan. Alih-alih memberikan kesimpulan secara terburu-buru, Tailwhip membiarkan setiap cerita berkembang secara alami.
“Setiap lagu punya perjalanannya sendiri, tapi saling melengkapi,” ujar perwakilan Tailwhip. “Kami ingin perbedaan pengalaman itu tetap terasa dalam album ini, sampai akhirnya tiba di penerimaan. Perasaannya mungkin masih ada, tapi kita tidak harus terus bertengkar dengannya.”
Sebelum meluncurkan album penuh, Tailwhip telah memperkenalkan empat single yang menjadi fondasi narasi album. Lagu I Feel Confused dan I Think I’ve Said Enough menggambarkan kelelahan ketika seseorang terus berusaha menjelaskan perasaan yang masih mengikatnya.
Sementara itu, Paint You like a Painful Hope menelusuri harapan yang justru membuat seseorang sulit melangkah pergi. Adapun Stand the Rain menghadirkan sisi lain melalui cerita tentang pertemanan dan mimpi bersama, sekaligus memperluas narasi dari pergulatan pribadi menuju pengalaman kolektif.
Untuk melengkapi perilisan album, Tailwhip juga akan menghadirkan video lirik bagi seluruh sepuluh lagu. Visual yang ditampilkan akan menyoroti kawasan Bintaro, mempertemukan cerita dalam musik dengan ruang fisik yang menjadi bagian penting dari perjalanan kreatif mereka.
Di luar aktivitas bermusik, Tailwhip turut terlibat dalam gerakan Club of 2000s. Keterlibatan ini mempertemukan mereka dengan musisi dan pelaku kreatif dari generasi kelahiran 2000-an yang sama-sama berupaya membangun ekosistem budaya mandiri.
Melalui Leftover Miscellaneously Placed Angst, Tailwhip tidak hanya memperkenalkan identitas musikal mereka, tetapi juga membagikan potret pengalaman tumbuh bersama di pinggiran kota. Album ini menjadi ruang bagi beragam ingatan dan perasaan untuk hadir berdampingan, hingga akhirnya menemukan penerimaan.
Berawal dari cerita pertemanan di Bintaro, Tailwhip kini membawa pengalaman personal tersebut kepada pendengar yang lebih luas, dengan harapan setiap orang dapat menemukan bagian dari kisah mereka sendiri di dalam album debut ini.
Kontributor: Akhmad Sekhu




