Nicholas Saputra Jadi Tokoh Utama, Produser dan Pencetus Ide Film ‘Merah Sebelum Fajar’
Lifestyle & Sport

Nicholas Saputra Jadi Tokoh Utama, Produser dan Pencetus Ide Film ‘Merah Sebelum Fajar’

Channel9.id-Jakarta. Aktor Nicholas Saputra menunjukkan kiprahnya di balik layar melalui film Merah Sebelum Fajar (Red Before Dawn) garapan sutradara Garin Nugroho. Tak hanya menjadi pemeran utama, Nicholas juga bertindak sebagai produser sekaligus pencetus gagasan film yang mengangkat sisi lain perjuangan masyarakat Indonesia pada awal kemerdekaan.

Dalam diskusi setelah pemutaran perdana Merah Sebelum Fajar di Hulic Hall Tokyo, Jepang, Selasa (27/10/2026), Nicholas mengungkapkan bahwa ide film tersebut berawal sekitar dua hingga tiga tahun lalu ketika dirinya dan Garin terlibat dalam produksi film musikal Siapa Dia.

“Semuanya dimulai sekitar dua atau tiga tahun lalu saat saya dan Garin syuting. Saya sebagai aktor, dan Garin sebagai sutradara,” kata Nicholas.

Melalui pengalaman tersebut, Nicholas melihat adanya periode sejarah yang belum banyak diangkat dalam perfilman Indonesia, yakni tahun-tahun awal setelah proklamasi kemerdekaan, khususnya periode 1946–1949.

“Tapi ada era yang jarang dibicarakan di negara kami, yaitu tahun-tahun awal sejak kemerdekaan diproklamasikan, pada 1946–1949,” papar Nicholas, yang memerankan tokoh Frans.

Menurut Nicholas, periode tersebut menyimpan banyak kisah tentang kehidupan masyarakat sipil di tengah pertempuran dan upaya mempertahankan kemerdekaan. Meski perjuangan melawan kembalinya kekuasaan kolonial telah banyak dibahas, pengalaman masyarakat biasa dalam menghadapi ketidakpastian pada masa itu dinilai masih jarang diungkapkan melalui film.

Gagasan tersebut kemudian disampaikan Nicholas, yang merupakan produser dari Atarui Films, kepada Garin Nugroho, sutradara yang dikenal menggarap film dengan beragam tema sejarah dan sosial.

Garin menyambut gagasan itu karena melihat relevansinya dengan kondisi dunia saat ini, ketika kekerasan dan peperangan masih terjadi di berbagai tempat. Bersama Dirmawan Hatta, ia kemudian menulis naskah Merah Sebelum Fajar.

“Ya, karena terlalu banyak kekerasan dan ketidakberdayaan di dunia ini. Dan ketika Nicho menawarkan ini, menurut saya harus dibuat film ini,” tutur Garin.

Bagi Garin, film ini bukan sekadar upaya membuka kembali lembaran sejarah, melainkan juga menjadi sarana menyampaikan pesan tentang pentingnya menghentikan kekerasan dan peperangan. Ia berharap kisah yang ditampilkan dapat menjadi bahan refleksi bagi masyarakat, terutama generasi muda yang belum banyak mengenal kompleksitas kehidupan pada masa awal kemerdekaan.

“Dan saatnya memang harus dibuka, untuk direnungi,” ujarnya.

Film Merah Sebelum Fajar berlatar Indonesia pada 1946, ketika situasi politik dan keamanan masih diliputi ketidakpastian. Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, Belanda kembali ke Indonesia dengan membonceng pasukan Sekutu. Kondisi tersebut memicu perlawanan rakyat yang ingin mempertahankan kemerdekaan.

Cerita berpusat pada Frans, seorang ahli tambang keturunan Belanda-Indonesia yang melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta, ibu kota sementara Republik Indonesia. Ia membawa dokumen penting untuk membantu pemerintahan baru mengelola sumber daya mineral yang melimpah di Tanah Air.

Dalam perjalanan itu, Frans ditemani Qasim, keturunan India yang diperankan Bront Palarae; seorang calon perawat keturunan Tionghoa yang diperankan Laura Basuki; penyanyi keliling yang diperankan Tissa Biani; serta Arya, teknisi radio tunanetra yang diperankan Nagra Pakusadewo.

Arya meyakini bahwa masa depan rakyat bergantung pada kemampuan mereka untuk saling berkomunikasi di seluruh penjuru negeri. Keyakinan tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam perjalanan para tokoh yang berasal dari latar belakang berbeda.

Di tengah perjalanan, mereka menghadapi kecurigaan dan konflik dari kelompok-kelompok yang seharusnya memiliki tujuan perjuangan serupa. Perbedaan etnis, agama, dan kepentingan memperlihatkan bahwa proses membangun persatuan di tengah perjuangan kemerdekaan tidak selalu berjalan mudah.

Melalui kisah tersebut, Merah Sebelum Fajar menggambarkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan manusia. Film ini menyoroti bahwa kekerasan tidak hanya datang dari konflik melawan penjajah, tetapi juga dapat muncul di antara kelompok-kelompok yang sama-sama memperjuangkan masa depan bangsa.

Kehadiran Merah Sebelum Fajar di panggung internasional turut menjadi pencapaian tersendiri bagi perfilman Indonesia. Film ini menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam kompetisi utama Tokyo International Film Festival 2026, yang diikuti 15 film dari berbagai negara.

Pengumuman pemenang kompetisi dijadwalkan berlangsung pada hari terakhir festival, 4 November 2026. Sementara itu, penonton di Indonesia dapat menyaksikan Merah Sebelum Fajar di bioskop mulai 21 Januari 2027.

Melalui film ini, Nicholas Saputra dan Garin Nugroho menghadirkan kembali potongan sejarah yang belum banyak dibicarakan sekaligus mengajak penonton merenungkan arti kemerdekaan, persatuan, dan kemanusiaan di tengah konflik.

Kontributor: Akhmad Sekhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

26  +    =  36