Angklung Resmi Masuk Kurikulum Sekolah Berkebutuhan Khusus di Jepang
Internasional

Angklung Resmi Masuk Kurikulum Sekolah Berkebutuhan Khusus di Jepang

Channel9.id-Tokyo. Diplomasi budaya Indonesia kembali mencatatkan capaian positif di Jepang. Gifu Special Needs School, sekolah berkebutuhan khusus di Prefektur Gifu, resmi memasukkan angklung ke dalam kurikulum pembelajaran musik mulai tahun ajaran 2026. Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, yang menilai kebijakan itu sebagai bukti kuat semakin eratnya hubungan masyarakat Indonesia dan Jepang.

Apresiasi tersebut disampaikan Dubes Kartini dalam kegiatan penyerahan hibah satu set alat musik angklung dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kepada Gifu Special Needs School yang berlangsung secara daring, Senin (6/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti perwakilan UPI, KBRI Tokyo, Gifu Special Needs School, Gifu University, serta otoritas pendidikan setempat.

Menurut Kartini, hubungan Indonesia dan Jepang tidak hanya dibangun melalui kerja sama ekonomi maupun politik, tetapi juga melalui interaksi langsung antarwarga kedua negara. Pendekatan people-to-people contact menjadi salah satu pilar penting diplomasi publik Indonesia untuk memperkuat citra bangsa sekaligus mempererat persahabatan antarnegara.

“Masuknya pembelajaran angklung menjadi bagian dari kurikulum Gifu Special Needs School merupakan bukti kuatnya people-to-people contact hubungan persahabatan Indonesia-Jepang, khususnya menjelang 70 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 2028,” ujar Kartini.

Ia menjelaskan, angklung yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga mengandung filosofi kebersamaan, gotong royong, dan toleransi. Nilai-nilai tersebut dinilai sangat relevan diterapkan dalam pendidikan inklusif.

Kartini menegaskan, KBRI Tokyo akan terus mendukung berbagai kolaborasi pendidikan dan kebudayaan yang dapat memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat Jepang.

Sementara itu, Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi menyampaikan kebanggaannya atas perkembangan pembelajaran angklung di Gifu. Menurutnya, angklung memiliki keunikan karena hanya dapat menghasilkan harmoni jika dimainkan secara bersama-sama, sehingga mampu menanamkan nilai inklusivitas dan kerja sama sejak dini.

“Saya percaya suara angklung akan semakin luas terdengar dari sekolah-sekolah berkebutuhan khusus hingga sekolah umum di Jepang,” katanya.

Kepala Gifu Special Needs School, Sachi Sumi, mengaku para siswa sangat antusias mempelajari angklung. Instrumen tersebut dinilai mudah dimainkan sekaligus membantu peserta didik memahami ritme dan kerja sama dalam bermusik.

Hal senada disampaikan perwakilan Gifu City Board of Education, Yukihiro Saitoh. Ia menilai angklung bukan sekadar alat musik, tetapi juga media pembelajaran karakter yang efektif bagi peserta didik.

Dukungan juga datang dari Assistant Professor Gifu University, Yoshitaka Suzuki. Menurutnya, angklung memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam pendidikan kebutuhan khusus karena sifatnya yang inklusif dan mudah dipelajari oleh anak-anak penyandang disabilitas.

Keberhasilan implementasi angklung di Gifu merupakan hasil kerja sama panjang yang telah dibangun sejak 2022 antara UPI, Gifu University, Gifu Special Needs School, Gifu City Board of Education, serta berbagai mitra pendidikan di Jepang. Melalui berbagai pelatihan, workshop, pertunjukan budaya, dan program pertukaran, angklung terus diperkenalkan sebagai media pembelajaran sekaligus sarana diplomasi budaya Indonesia.

Bahkan pada 2025, materi pembelajaran angklung telah diperkenalkan kepada lebih dari 500 guru sekolah berkebutuhan khusus dari tujuh prefektur di Jepang. Memasuki 2026, kolaborasi tersebut terus diperluas melalui partisipasi tim pelatih UPI dalam berbagai festival budaya dan pertunjukan internasional di Gifu, Toyota, dan Nagoya.

Capaian ini menjadi bukti bahwa diplomasi budaya Indonesia tidak hanya memperkenalkan kesenian nasional ke dunia internasional, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan inklusif. Angklung kini bukan sekadar instrumen musik tradisional, melainkan juga jembatan persahabatan yang menghubungkan Indonesia dan Jepang melalui harmoni serta semangat kebersamaan.

Baca juga: KBRI Tokyo dan Tiga Konhor RI Satukan Langkah Perkuat Diplomasi Daerah di Jepang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

79  +    =  83