Internasional

AS Akan Tingkatkan Bantuan Persenjataannya ke Ukraina

Channel9.id-Ukraina. Amerika Serikat akhirnya mengunjungi Ukraina sejak Rusia menginvasi negara tetangganya dua bulan lalu. Diplomat dan Menteri Luar Negeri AS bersumpah akan memberikan senjata bantuan, termasuk senjata-senjata teknologi mutakhirnya, kepada Ukraina, selain itu mereka juga berjanji akan kembali mengunjungi Kyiv di masa mendatang, Senin (25/4/2022).

Dalam kunjungan yang bertujuan untuk menunjukkan dukungan dari negara-negara Barat, Menteri Luar Negeri Antony Blinken dan Menteri Pertahanan Lloyd Austin bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan pejabat tinggi Ukraina lainnya pada Minggu malam.

Pejabat AS itu mengatakan kalau kesekretariatan AS berjanji akan mengirimkan bantuan senjata yang nilainya setara dengan 713 juta dolar AS kepada Ukraina dan negera-negara Eropa Timur untuk bertahan dari gempuran Rusia.

Pertemuan antara AS dengan Ukraina ini berlangsung selama tiga jam, atau melebihi dari waktu yang sudah direncanakan.

“Kami terinspirasi dengan kegigihan Kristiani Ortodoks di Ukraina di hadapan peperangan brutal Presiden Putin,” tulis Blinken di Twitter, di saat peperangan di daerah Timur itu sempat mereda karena perayaan Paskah Kristiani Ortodoks.

Sebelum kunjungan dari AS, pemerintah Ukraina sempat membuat daftar senjata yang mereka butuhkan dari Amerika Serikat, seperti sistem senjata anti-rudal, sistem anti-pesawat, kendaraan tempur dan tank, ungkap staff Zelenskiy, Igor Zhovkva kepada NBC News pada hari Minggu lalu.

Amerika Serikat dan NATO sendiri kian menunjukkan kesiapannya untuk mengirimkan persenjataan berat dan senjata-senjata canggih lainnya. Inggris sendiri telah mengungkapkan akan mengirim kendaraan militer dan sedang mempertimbangkan untuk mengirim tank ke Polandia.

Diplomat AS menyatakan kalau mereka akan kembali ke Ukraina dalam beberapa pekan kedepan, sekaligus akan mengumumkan duta baru dari AS untuk Ukraina.

“Tak akan ada yang berubah dalam pertemuan langsung tersebut, dan tentu saja ada pesan tersirat dalam kembalinya kami ke sana” ujar pejabat Kementerian Luar Negeri AS yang tak ingin disebutkan namanya.

(RAG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

  +  4  =  5