Lifestyle & Sport

Baim Wong Kenang Ibunda di Pengujung Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri

Channel9.id-Jakarta. Momen Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang sangat istimewa. Demikian juga dengan artis Baim Wong yang mengaku selalu membawa suasana haru terutama setelah kepergian sang ibunda tercinta. Baim Wong mengaku sangat merindukan kehadiran orang tuanya, terutama di momen hangat saat berkumpul bersama di meja makan.

Ada banyak hal kecil yang kini menjadi kenangan mahal bagi Baim, mulai dari obrolan ringan hingga perhatian-perhatian sederhana yang dulu sering diterimanya. Ia teringat betapa sang ibu sangat memperhatikan hal-hal mendasar seperti asupan makanan anaknya selama berpuasa.

“Ya, buka bareng sama keluarga sih. Buka bareng sama keluarga, ya paling sosok orang tua. Sudah enggak ada, jadi agak kangen banget,” kata Baim Wong di Kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu.

“Ya pertanyaan dia yang simpel-simpel kita kangen. ‘Buka puasa pakai apa?’, ‘Sahur pakai apa?’. Kadang-kadang suka kangen itu yang di mana…,” kenang Baim Wong.

Selain perhatian secara verbal, masakan khas sang ibu juga menjadi hal yang paling dirindukan oleh Baim. Sayur asem dan olahan ikan asin menjadi menu favorit yang sulit dilupakan karena rasa otentik buatan sang bunda.

“Kangen juga makanannya. Dia sering masakin saya sayur asem sama jambal, ikan peda. Kangenlah pastinya,” bebernya.

Diakui Baim, kerinduan tersebut seringkali muncul secara tiba-tiba, terutama di saat-saat sedang beribadah. Baim pun mengakui ada kalanya air mata menetes saat teringat akan sosok yang telah melahirkannya tersebut saat bersujud di hadapan Yang Maha Kuasa.

“Kadang-kadang kalau lagi salat. Kadang-kadang kalau lagi salat ingat. Kadang-kadang kan kita juga suka lupa untuk doain, suka lupa tilawah, kadang-kadang suka ingat suka nangis pas lagi salat doang,” tuturnya.

Kedekatan emosional Baim dengan orang tuanya ini ternyata menjadi inspirasi besar dalam proyek filmnya. Banyak elemen dalam naskah film tersebut yang diambil dari pengalaman pribadinya saat masih bisa bermanja-manja dengan sang ibu.

“Semua yang saya tulis di sini kebanyakan ya terinspirasi banget dari saya sama Ibu, Ibu sama Papa. Kejadiannya, caranya… tapi pemainnya nggak ada yang tahu, kita doang sebagai penulis tahu. Memang itu pengalaman kita,” jelas Baim Wong.

Bahkan, dialog-dialog yang muncul dalam film tersebut seringkali mencerminkan pertanyaan-pertanyaan nyata dari orang tuanya di masa lalu. Salah satunya adalah soal kapan ia akan mengakhiri masa lajang, yang ia masukkan sebagai bagian dari cerita dalam filmnya.

“Bahasanya, kenapa belum nikah-nikah, belum apa, sama tuh. Yang sering ditanyain, ‘belum apa’, jawabannya juga sama, ‘kapan mau sampai kapan?’, kalau nunggu mapan nggak akan pernah mapan,” pungkas Baim Wong.

Kontributor: Akhmad Sekhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  9  =  15