Belakangan Ini Menguap Berlebihan? Mungkin Ini Penyebabnya
Lifestyle & Sport

Belakangan Ini Menguap Berlebihan? Mungkin Ini Penyebabnya

Channel9.id-Jakarta. Menguap pada umumnya dipahami sebagai respons terhadap rasa kantuk. Memang, biasanya Kamu bakal menguap beberapa kali sebelum tidur.

Namun, apakah Kamu lebih sering menguap ketimbang biasanya belakangan ini, padahal Kamu cukup tidur? Kalau iya, sebetulnya ini bukanlah hal sepele. Pasalnya, kebiasaan menguap juga menunjukkan kondisi kesehatanmu, lo. Kalau intensitasnya berlebihan, bisa jadi itu merupakan tanda gangguan kesehatan ringan atau berat yang mesti Kamu waspadai.

Baca juga: Penyebab Rasa Kantuk Muncul Saat Bosan

Untuk diketahui, rata-rata manusia menguap dalam sehari ialah 5-10 kali. Perihal menguap berlebihan, sebetulnya belum ada batasan pasti, namun pada kasus tertentu bisa saja lebih dari 100 kali dalam sehari.

Perubahan kebiasaan menguap itu—menjadi lebih sering atau berlebihan—mungkin dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk penggunaan obat-obatan atau masalah kesehatan yang Kamu alami. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut ini.

1. Kurang tidur
Begadang atau insomnia membuatmu kurang tidur. Hal ini bakal membuat Kamu merasa lelah dan mengantuk pada keesokan harinya. Adapun mengantuk akan membuatmu menguap lebih sering. Sementara itu, intensitas menguap akan berkurang jika Kamu cukup istirahat dengan tidur 7—9 jam per malam.

2. Gangguan tidur
Gangguan tidur seperti sleep apne dan narkolepsi juga memungkinkan seseorang menguap lebih sering. Ini karena penderitanya kerap merasa mengantuk. Jika mengalami kedua gangguan ini, seseorang akan sering menguap karena waktu tidurnya terganggu.

Untuk diketahui, sleep apnea merupakan gangguan tidur yang memungkinkan seseorang kesulitan bernapas saat tidur di malam hari dan membuatnya kerap terbangun. Karena inilah, penderitanya cenderung merasa lelah dan kurang istirahat ketika esok hari. Sementara itu, narkolepsi ialah gangguan tidur akibat sistem saraf, yang mengakibatkan penderitanya tidur di mana saja dan kapan saja tanpa kendali.

3. Efek samping obat-obatan
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa efek samping pengobatan tertentu bisa menyebabkan seseorang menguap berlebihan. Umumnya, intensitas menguap setelah meminum obat antidepresan untuk mengobati depresi dan gangguan kecemasan.

4. Gejala gangguan jantung
Sering menguap juga menjadi gejala awal gangguan jantung. Sebagaimana diketahui, jantung bekerja untuk memompa darah yang kaya oksigen dan mengalirkannya ke seluruh tubuh. Adapun ketika jantung terganggu, fungsi tak berjalan dengan normal.

Sementara itu, menguap juga merupakan salah satu respons bahwa tubuh kekurangan oksigen. Dengan menguap, tubuh mencoba untuk mencari oksigen. Oleh karena itu, gangguan jantung memungkinkan seseorang menguap lebih sering. Pada kasus tertentu, jika diabaikan, ini akan berujung pada serangan jantung.

5. Gangguan saraf
Berbagai gangguan neurologis atau saraf bisa membuatmu sering menguap, termasuk multiple sclerosis—yakni masalah kronis yang menyerang sistem saraf pusat otak dan sumsum tulang belakang.

Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan mengatur suhu tubuh. Hasilnya, orang tersebut akan menguap untuk mengatur suhu tubuh kembali normal.

6. Stroke
Stroke terjadi karena pembuluh darah ke otak tersumbat dan membuat sel otak rusak. Hal inilah yang membuat otak kekurangan oksigen dan nutrisi, sehingga sel-sel otak mulai mati.

Sebuah studi dalam Frontiers In Neuroscience menemukan bahwa pasien stroke lebih sering menguap setidaknya lebih dari tiga kali dalam 15 menit. Kondisi ini iritasi pada sistem saraf yang kemudian meningkatkan suhu pada otak. Sebagai respons tubuh untuk mendinginkan suhu otak, pasien stroke akan menguap secara berlebihan.

Nah, itulah berbagai kemungkinan kenapa Kamu jadi lebih sering menguap. Untuk mengatasi ini, Kamu memahami penyebab pastinya.

Salah satu hal yang penting, untuk memastikan kondisi kesehatan, Kamu sebaiknya konsultasikan ke dokter. Dokter mungkin akan menanyakan tentang kebiasaan tidur hingga gejala lainnya. Bila perlu, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan lanjutan dengan EEG dan MRI.

(LH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  5  =  13