Channel9.id, Surabaya. Ketua MPR RI Ahmad Muzani menekankan pentingnya menempatkan penguasaan teknologi sebagai bagian dari strategi memperkuat bangsa. Menurutnya, perkembangan teknologi saat ini tidak hanya berkaitan dengan inovasi, tetapi juga menyentuh persoalan pertahanan, dunia kerja, hingga kepentingan nasional.
Pandangan tersebut disampaikan Ahmad Muzani ketika bertemu dengan civitas akademika dan Dewan Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Rabu (26/8/2026). Dalam pertemuan itu, ia mengapresiasi perhatian ITS terhadap keterkaitan antara kemajuan teknologi dan persoalan kebangsaan.
Ahmad Muzani menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dapat membawa konsekuensi luas bagi masyarakat. Ia menyinggung perdebatan di Amerika Serikat mengenai dampak AI, termasuk kekhawatiran terhadap berkurangnya lapangan pekerjaan akibat otomatisasi.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi pelajaran bahwa sebuah negara tidak semestinya hanya berperan sebagai konsumen teknologi. Penguasaan teknologi perlu diarahkan agar manfaatnya dapat memperkuat kepentingan nasional.
“Teknologi bukan persoalan yang berdiri sendiri dari persoalan kebangsaan. Justru persoalan teknologi itu menguatkan kebangsaan,” ujar Ahmad Muzani di Kampus ITS, Sukolilo, Surabaya.
Teknologi Makin Menentukan Kekuatan Pertahanan
Isu penguasaan teknologi, lanjut Muzani, juga tidak dapat dipisahkan dari sektor pertahanan. Ia berpandangan bahwa kekuatan militer pada era modern tidak lagi semata-mata diukur dari banyaknya personel atau persenjataan yang dimiliki.
Perkembangan teknologi perang membuat kemampuan menguasai teknologi tinggi semakin menentukan. Ia mengambil contoh konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat untuk menggambarkan perubahan karakter peperangan modern.
“Perang zaman sekarang seperti Iran dan Israel, Iran dan Amerika, jumlah tentara yang banyak hampir tidak lagi relevan. Teknologi yang tinggi yang justru menentukan,” katanya.
Muzani juga menilai kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan sistem ketatanegaraan yang mampu memastikan hasil inovasi digunakan untuk kepentingan negara. Karena itu, pembahasan mengenai teknologi menurutnya tidak cukup hanya melibatkan pemerintah.
Perguruan tinggi, termasuk ITS, dinilai memiliki posisi strategis karena dapat memberikan gagasan sekaligus menghasilkan sumber daya manusia dan inovasi yang dibutuhkan negara. Atas dasar itu, kunjungannya ke ITS juga menjadi momentum untuk mendengar perspektif akademisi mengenai arah pengembangan teknologi nasional.
Ia menambahkan, pembangunan kekuatan negara membutuhkan dukungan lintas sektor. Pertahanan yang kuat, aparat yang tangguh, persenjataan modern, serta sumber daya manusia berkualitas harus ditopang oleh kemampuan teknologi dan berbagai elemen lainnya.
Pada akhirnya, Muzani menempatkan penguasaan teknologi sebagai salah satu fondasi ketahanan nasional. Ia menegaskan bahwa upaya memperkuat negara merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah.
“Bernegara itu adalah semua lapisan harus merasa bertanggung jawab untuk menguatkan negara,” tutur dia.




