Opini

Biochar dan Ilusi Ketahanan Pangan

Oleh: Rudi Andries*

Channel9.id-Jakarta. Dunia sedang menghadapi satu ironi yang jarang dibicarakan: ketahanan pangan global ternyata berdiri di atas fondasi yang rapuh—pupuk. Selama ini, perhatian lebih banyak tertuju pada produksi beras, jagung, atau gandum. Padahal, tanpa pupuk, semua itu tak lebih dari potensi yang tak pernah tumbuh.

Ketergantungan global terhadap pasokan pupuk dari kawasan Teluk memperlihatkan betapa sistem pangan dunia tersandera oleh geopolitik. Hampir separuh perdagangan urea dunia bergantung pada jalur sempit yang rentan konflik. Ketika jalur itu terganggu, dampaknya bukan sekadar kenaikan harga, tetapi ancaman langsung terhadap produksi pangan.

Lonjakan harga pupuk hingga puluhan persen dalam waktu singkat menjadi sinyal keras. Dunia tidak memiliki cadangan strategis pupuk. Berbeda dengan minyak atau pangan, tidak ada “buffer” global yang bisa meredam guncangan. Artinya, setiap krisis akan langsung terasa di ladang, bukan hanya di pasar.

Indonesia tidak berada di luar risiko ini. Ketergantungan pada pupuk kimia berbasis impor dan gas masih tinggi. Di saat yang sama, beban subsidi pupuk terus menekan anggaran negara. Ketika pasokan terganggu, pemerintah menghadapi dilema: menaikkan subsidi atau membiarkan produksi pangan tertekan.

Dalam skenario krisis berkepanjangan, dampaknya bisa berlapis—tekanan fiskal meningkat, produksi menurun, dan harga pangan melonjak. Kombinasi ini bukan sekadar masalah ekonomi, tetapi juga sosial dan politik.

Di titik inilah, biochar layak dilihat bukan sebagai alternatif teknis, melainkan sebagai strategi. Biochar—arang hayati dari limbah pertanian—menawarkan pendekatan yang berbeda: berbasis sumber daya domestik, terdesentralisasi, dan berorientasi jangka panjang.

Keunggulannya sederhana namun strategis. Ia meningkatkan efisiensi pupuk kimia, memperbaiki struktur tanah, dan dapat diproduksi dari limbah yang selama ini terbuang. Dalam konteks yang lebih luas, biochar juga membuka peluang integrasi dengan skema karbon, menjadikannya relevan dalam agenda ekonomi hijau.

Namun, seperti banyak solusi di Indonesia, tantangannya bukan pada konsep, melainkan eksekusi. Tanpa dorongan kebijakan yang kuat, biochar akan tetap menjadi wacana pinggiran. Karena itu, diperlukan langkah yang lebih sistematis.

Pertama, inisiasi Gerakan Nasional Biochar sebagai program lintas sektor. Kedua, integrasi ke dalam kebijakan subsidi pupuk dan program ketahanan pangan. Ketiga, percepatan proyek percontohan di sentra produksi utama, terutama di Jawa, untuk membuktikan skala dan dampaknya.

Krisis pupuk global seharusnya menjadi alarm. Ketahanan pangan tidak cukup diukur dari luas lahan atau volume produksi, tetapi dari kemampuan mengendalikan input strategisnya. Tanpa itu, setiap guncangan global akan selalu berujung pada kepanikan domestik.

Indonesia membutuhkan buffer. Bukan buffer yang bergantung pada impor, tetapi yang tumbuh dari dalam negeri sendiri. Biochar menawarkan jalan ke arah itu—bukan sebagai solusi tunggal, tetapi sebagai langkah awal yang realistis.

Ketahanan pangan tanpa kedaulatan pupuk, pada akhirnya, hanyalah ilusi yang mahal.

Baca juga: DNIKS Dorong Pemanfaatan Ranting Sisa Banjir Jadi Biochar

* Waketum DNIKS, tambahin: Anggota Pengawas Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII)Top of Form

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

75  +    =  76