Nasional

BPIP: Pancasila Tahan Banting Dalam Gejolak Politik Nasional dan Global

Channel9.id-Jakarta. Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Darmansjah Djumala mengungkapkan dalam lintasan sejarah, baik nasional maupun global, Pancasila terbukti mampu bertahan sebagai ideologi negara.

“Di tengah dinamika politik nasional dan global, Indonesia tetap utuh bersatu sebagai bangsa dan negara. Itu karena para pemimpin politik Indonesia menyadari hanya Pancasila yang mampu mempersatukan bangsa yang beragam ini,”ujarnya dalam Rapat Kerja DPRD Kota Bandung, di Jakarta (23//1/2023).

Dalam paparannya yang berjudul “Pancasila dalam Dinamika Politik Nasional dan Global: Sejarah Kelahiran dan Tantangan Masa Kini”, Djumala menyampaikan apresiasinya atas pemilihan topik sejarah  kelahiran Pancasila. Dikatakan bahwa pemilihan topik sejarah tersebut relevan sekali dengan nasihat Bung Karno yang menyebut jangan sekali-kali melupakan sejarah.

“Dari sejarah lah kita bisa belajar masa lalu dalam menyikapi kondisi saat ini dan mengantisipasi masa depan,”katanya.

Namun Djumala mengingatkan, jika mempelajari sejarah, termasuk kelahiran Pancasila, jangan terjebak hanya pada pertanyaan “apa dan siapa”. Tapi yang lebih penting adalah pertanyaan “mengapa dan bagaimana”.

Terkait kelahiran Pancasila, Djumala menegaskan pentingnya pemahaman proses perdebatan di BPUPK mulai dari 1 Juni (pidato Bung Karno), 22 Juni (Piagam Jakarta) dan 18 Agustus 1946 (penetapan UUD 45).

“Perdebatan ideologis antara tokoh Nasionalis dan Agamis saat itu, sehingga mencapai kesepakatan UUD 45 yang di dalamnya termaktub rumusan Pancasila sekarang ini, merefleksikan sikap kenegarawanan dan kebesaran jiwa para founding fathers kita untuk membentuk negara Kebangsaan  Indonesia yang merangkul semua suku, ras, etnik dan agama yang ada di Indonesia,”urainya.

Baca juga: Apresiasi Kinerja Kemlu, Dewan Pakar BPIP: Capaian 2022 Penuhi Prioritas Diplomasi 

Dalam kesempatan itu Djumala juga mengingatkan bahwa Pancasila sudah teruji dan tangguh dalam menghadapi berbagai dinamika politik,  baik  nasional maupun global. Di tingkat nasional,  lanjutnya, Pancasila membuktikan ketangguhannya dlm menghadapi gonjang-ganjing politik akibat pemberontakan kelompok ekstrim kiri (PKI Komunis) dan ekstrim kanan (negara Islam DI/TII).

“Dalam tatBPIParan global,  selama Perang Dingin (1947-1989) banyak negara bubar dan pecah menjadi utara-selatan, barat-timur, Indonesia tetap utuh sebagai negara bangsa. Ketika Tembok Berlin (1991) runtuh di akhir Perang Dingin, banyak negara di kawasan Eropa Timur, Baltik, Balkan  dan Asia Tengah mengalami disintegrasi dan hancur akibat konflik etnik dan agama, tapi Indonesia tetap solid,”jelasnya.

Demikian pula saat tragedi 11 September 2001 di New York menimbulkan saling curiga antara Barat dan dunia Islam, Indonesia justru menjadi `role model` sebagai negara mayoritas Muslim yang dapat mengadopsi demokrasi.

“Begitu juga ketika Arab Spring pada 2011. Banyak negara di Arab Timur Tengah bubar karena perang saudara, Indonesia tetap kokoh dalam negara kesatuan. Sejatinya itulah kesaktian dan ketangguhan Pancasila dalam dinamika politik global,” tandas Djumala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  44  =  49