Channel9.id – Jakarta. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5,5 persen pada Triwulan I 2026. Sejumlah indikator seperti investasi, belanja modal, dan aktivitas manufaktur menunjukkan kinerja yang mendukung pencapaian target tersebut.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, realisasi investasi pada Triwulan I 2026 mencapai Rp498,79 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Belanja modal pemerintah pusat juga meningkat 36,7 persen menjadi Rp35,42 triliun pada periode yang sama.
Aktivitas manufaktur tercermin dari Purchasing Managers Index (PMI) yang konsisten berada di zona ekspansi sepanjang Januari hingga Maret 2026. Pada periode yang sama, kredit investasi tumbuh 20,85 persen secara tahunan menjadi Rp2.726,9 triliun.
Data BPS menunjukkan ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah gejolak global dengan kinerja ekspor yang relatif kuat. Nilai ekspor kumulatif Januari-Maret 2026 mencapai USD66,85 miliar atau naik 0,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama ekspor dengan pertumbuhan 3,96 persen menjadi USD54,98 miliar. Sementara itu, nilai impor mencapai USD61,30 miliar atau naik 10,05 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar USD5,55 miliar pada periode Januari hingga Maret 2026. Surplus ini memperpanjang tren positif neraca perdagangan Indonesia yang telah berlangsung selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
“Hingga bulan Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 5,55 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD 10,63 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 5,08 miliar,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (4/5/2026).
Di sisi domestik, pergerakan masyarakat juga menunjukkan peningkatan yang mencerminkan aktivitas ekonomi tetap berjalan. Tercatat 319,51 juta perjalanan wisatawan nusantara pada Triwulan I 2026 atau naik 13,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan mobilitas tersebut menjadi indikasi daya beli masyarakat yang tetap terjaga. Hal ini turut menopang stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal.
Inflasi pada April 2026 tercatat sebesar 0,13 persen secara bulanan dan 2,42 persen secara tahunan. Kenaikan tarif angkutan udara dan harga bensin menjadi faktor utama yang mendorong inflasi.
Namun demikian, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi 0,20 persen. Kondisi ini membantu menjaga inflasi tetap terkendali secara keseluruhan.
“Beberapa komoditas juga ada yang memberikan andil deflasi diantaranya daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan dengan andil deflasi 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen,” tutup Ateng.
HT





