Nasional

IDI Harus Jelaskan Secara Terbuka Pemecatan Terawan

Channel9.id – Jakarta. Ahli epidemiologi Dr. Tifauzia Tyassuma mendesak IDI untuk memberikan penjelasan secara terbuka terkait diberhentikannya Terawan.

Dia pun mengutuk sikap para dokter yang hadir pada Muktamar IDI, terutama yang menyebarkan video tentang keputusan rapat untuk memecat Dokter Terawan ke sosial media.

“IDI sebaiknya bicara. Klarifikasi secara terbuka. Alasan mengapa Dokter Terawan mendapat hukuman. Dikeluarkan secara permanen dari IDI. Ini hukuman yang luarbiasa berat,” ujarnya, Minggu 27 Maret 2022.

Baca juga: Terawan Diberhentikan Dari Anggota IDI

“Dan saya menyesalkan, kenapa Para Dokter yang hadir pada Muktamar IDI, SAMPAI HATI menyebarluaskan video tentang keputusan Rapat Tertutup tersebut, ke sosial media,” kata Tifauzia.

Dia menilai, terlepas dari apapun permasalahan antara IDI dengan Dokter Terawan, tidak seharusnya menyebarkan informasi itu.

“Bayangkan kalau hal ini terjadi pada kalian sendiri. Ini preseden yang betul-betul buruk!. Rapat Tertutup adalah Rapat Tertutup. Masa kalian Dokter-Dokter tidak tahu menjaga etika dan moral obligatory?,” kata Tifa.

Tifa menilai, Dokter Terawan sudah mendapatkan sanksi untuk tidak bisa praktek seumur hidup, tapi tetap ditambah hukuman pencemaran nama baik.

Terlebih, kalau IDI tidak segera bicara, akan banyak sekali spekulasi muncul diluar.

“Spekulasi pertama dari saya adalah ini: Adakah hubungan keputusan IDI ini dengan Vaksin Imunoterapi Nusantara? Adakah tekanan dari Industri Farmasi, agar Vaksin Imunoterapi Nusantara gagal lahir?,” ujarnya.

Dia pun menilai pemecatan Dokter Terawan oleh IDI secara permanen, di dalam Muktamar IDI, acara yang melibatkan seluruh Dokter di Indonesia, baik yang hadir maupun yang tidak adalah suatu bentuk kesewenang-wenangan terhadap dua pihak.

“Pertama pihak Dokter Terawan. Kedua Pihak Dokter-Dokter yang secara umum tidak banyak memahami permasalahan sesungguhnya, dan mungkin juga tidak sepakat ketika acara Muktamar yang akbar, digunakan untuk menghukum seorang Teman Sejawat, atas nama Dokter seluruh Indonesia,” kata Tifa.

Dia menyampaikan, kalau IDI mendakwa Dokter Terawan melakukan Pelanggaran Etika Berat sehingga layak dijatuhi hukuman mati atas Kartu Anggota IDI-nya, Sering, atau beberapa kali terjadi, dan dilakukan oleh Para Dokter.

“Sependek pengetahuan saya, baru kali ini, seorang Dokter, dipecat secara permanen, dalam suatu Majelis besar atas nama seluruh Dokter se Indonesia, yang disebut Muktamar IDI,” ujarnya.

“Seharusnya kalaupun ada masalah IDI dengan Dokter Terawan, diselesaikan secara tertutup di ruang Pengurus Besar, bukan di ruang Muktamar. IDI harus tahu, Anda bukan Lembaga yang harum namanya, pun bukan Lembaga yang disukai rakyat. Dan Dokter, secara umum, bukan orang yang disukai Rakyat, dibutuhkan iya, disukai tidak. Akibat cap arogansi yang belum juga luntur sampai saat ini. IDI, dalam Muktamar ini, lagi-lagi menunjukkan arogansi profesi Dokter, kali ini bahkan kepada saudara sekandungnya sendiri, sesama Dokter sendiri,” pungkasnya.

HY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

51  +    =  52