Oleh: Dr. Syaifuddin, M.Si., CICS.
Channel9.id – Jakarta. Dengan penuh rasa duka dan hormat yang mendalam, saya menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Jurgen Habermas pada 14 Maret 2026, seorang filsuf besar dari Frankfurt School yang pemikirannya telah menerangi dunia intelektual modern.
Kepergian beliau merupakan kehilangan besar bagi filsafat, ilmu sosial, dan terutama bagi tradisi pemikiran kritis yang selama puluhan tahun ia bangun dengan ketekunan intelektual dan integritas moral. Semoga warisan pemikiran dan semangat dialog rasional yang beliau tinggalkan terus hidup dan menginspirasi generasi akademisi serta pencari kebenaran di seluruh dunia.
Kepergian Jurgen Habermas pada 14 Maret 2026 menghadirkan kesunyian intelektual yang sulit diukur oleh sekadar catatan sejarah. Ia bukan hanya seorang filsuf dari Frankfurt School, melainkan sebuah horizon berpikir yang membuka kemungkinan baru bagi manusia modern untuk memahami rasionalitas, komunikasi, dan demokrasi.
Dalam dunia yang sering terpecah oleh kepentingan instrumental dan logika kekuasaan, Habermas mengingatkan kita bahwa bahasa bukan sekadar alat menyampaikan pesan, tetapi ruang etis tempat manusia saling mengakui martabat satu sama lain. Di sanalah rasionalitas komunikatif menemukan maknanya—sebuah harapan bahwa kebenaran dapat lahir dari dialog yang jujur, bukan dari dominasi.
Bagi saya pribadi, Habermas bukan hanya nama besar dalam sejarah filsafat sosial; ia adalah cahaya metodologis yang menuntun perjalanan akademik saya. Paradigma kritis yang ia kembangkan telah menjadi fondasi bagi cara saya memahami ilmu komunikasi-bukan sekadar sebagai studi tentang pesan dan media, tetapi sebagai medan emansipasi manusia.
Dalam kerangka Habermasian, komunikasi tidak berhenti pada proses transmisi makna, melainkan menjadi praksis pembebasan: ruang di mana subjek-subjek rasional berupaya mencapai pemahaman bersama melalui argumentasi yang terbuka dan reflektif.
Dari sanalah saya belajar bahwa penelitian ilmiah tidak pernah sepenuhnya netral; ia selalu berada dalam konteks sosial dan historis tertentu. Habermas mengajarkan bahwa tugas ilmu pengetahuan bukan hanya menjelaskan dunia, tetapi juga mengkritisinya secara reflektif.
Paradigma kritis yang saya gunakan dalam tesis dan disertasi bukan sekadar pilihan metodologis, melainkan komitmen epistemologis – sebuah kesadaran bahwa ilmu komunikasi harus mampu menyingkap relasi kuasa, ideologi, dan distorsi komunikasi yang kerap tersembunyi dalam praktik sosial. Dengan demikian, ilmu tidak menjadi alat legitimasi kekuasaan, melainkan sarana pembebasan kesadaran.
Karena itu, mengenang Habermas berarti juga menjaga api dialog yang ia nyalakan. Warisannya tidak berhenti pada buku, teori, atau kuliah-kuliahnya, tetapi hidup dalam setiap upaya kita membangun ruang publik yang rasional dan inklusif. Selama para peneliti, akademisi, dan praktisi komunikasi masih percaya bahwa percakapan yang jujur dapat mengalahkan dominasi dan manipulasi, selama itu pula semangat Habermas tetap hidup.
Dan bagi saya, penghormatan paling tulus kepada beliau adalah melanjutkan tradisi kritik, refleksi, dan dialog yang ia wariskan kepada dunia intelektual.
Selamat jalan Sang Maestro Kritis. Kami tetap mengawaki, mengembangkan, dan merawat semua karyamu.
Semoga karya-karyamu yang luar biasa itu menjadi catatan kebaikanmu di hadapan Tuhan.
Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Mercu Buana, Peneliti dan Analis Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik





