Channel9.id, Jakarta – Kementerian Dalam Negeri menggelar Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026 di Gedung Sasana Bhakti Praja, Senin (23/2/2026). Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir menegaskan pemerintah daerah harus memusatkan perhatian pada komoditas yang benar-benar mengalami kenaikan harga.
“Kalau harga tidak naik, tidak perlu kita bahas panjang lebar. Kita fokus pada komoditas yang naik supaya ada penyelesaian yang konkret. Jangan semua dibicarakan, nanti tidak tajam. Kita cari apa penyakitnya dan apa obatnya,” ujar Tomsi.
Daerah Tanpa Bencana Diminta Koreksi Diri
Tomsi meminta setiap daerah meninjau “rapor” inflasinya. Ia memahami kenaikan harga di wilayah terdampak bencana karena pasar rusak dan distribusi terhambat. Namun, ia menilai sebagian besar daerah kini sudah pulih.
Ia mencontohkan Aceh yang sempat mencatat inflasi 6,69 persen saat bencana terjadi. Menurutnya, provinsi yang tidak terdampak bencana harus segera berbenah jika angka inflasi tetap tinggi.
“Kalau tidak ada bencana tapi inflasinya tinggi, tolong koreksi diri. Sepuluh kabupaten dan kota dengan inflasi tertinggi juga harus mengevaluasi. Jangan sampai kita abai sementara daerah lain bisa mengendalikan harga dengan baik,” tegasnya.
Data Indeks Perkembangan Harga (IPH) menunjukkan kenaikan signifikan di Nusa Tenggara Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Di tingkat kabupaten/kota, ia menyoroti Lombok Timur, Blitar, Trenggalek, Lombok Tengah, Lombok Barat, Nganjuk, Cimahi, Boven Digoel, Situbondo, Tegal, Tuban, dan Sragen.
Menurut Tomsi, pola kenaikan harga dapat mengungkap sumber persoalan. Jika daerah yang berdekatan sama-sama mencatat inflasi tinggi, gangguan distribusi atau stok kemungkinan menjadi penyebab. Namun, jika hanya satu daerah melonjak, pemerintah daerah harus mengusutnya lebih serius.
“Kalau satu kabupaten naik sendiri sementara kiri-kanannya tidak, ini patut dicurigai. Bisa jadi TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) tidak aktif dan tidak mencari akar masalah. Atau memang ada permainan pedagang lokal sehingga harga mudah digerakkan,” ujarnya.
Cabai Rawit dan Ayam Ras Melonjak
Pada pekan ketiga Februari, harga cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, gula pasir, beras, dan daging sapi naik tajam. Tomsi secara khusus menyoroti lonjakan harga ayam ras meski stok nasional mencukupi.
“Saya pernah rapat sampai setengah kamar membahas ini. Secara nasional stok daging ayam ras cukup. Tapi kalau harga tetap naik, berarti ada yang tidak beres. Ada indikasi permainan pemain besar. Saya minta Direktorat Jenderal Peternakan menjelaskan langkah konkret yang sudah dan akan dilakukan. Jangan sampai masyarakat dirugikan,” tegasnya.
Ia juga mendesak Kementerian Pertanian segera mengendalikan produksi dan distribusi cabai. Selain itu, ia meminta Perum Bulog mempercepat distribusi beras di zona 3 karena stok nasional dalam kondisi aman.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng, melaporkan 230 kabupaten/kota mencatat kenaikan IPH per 20 Februari 2026. Jumlah itu meningkat dari 199 daerah pada pekan sebelumnya. BPS mencatat cabai rawit sebagai komoditas dengan lonjakan paling tinggi dan paling merata.
Kemendagri terus mengawasi pergerakan harga dan meminta pemerintah daerah bergerak cepat menjaga stabilitas agar daya beli masyarakat tetap kuat.





