Channel9.id – Jakarta. Institut Agama Islam Suryani Thaher (IAIST) menggelar kuliah perdana dengan menghadirkan seorang praktisi pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr. Cecep Kustandi, S.Pd,. M.Pd. Dalam kuliah umum tersebut, Cecep mengungkap bahwa sudah menjadi trend pembelajaran di perguruan tinggi dengan menggunakan plat form digital hingga kampus-kampus kecil pun dapat menggelar perkuliahan dengan ribuan mahasiswa.
Dalam kuliah perdana IAIST dengan tema “Transformasi Digital Perguruan Tinggi Menuju Smart Campus”, Cecep mengatakan saat ini perguruan tinggi sangat kompetitif. Kampus-kampus sudah memungkinkan menyelenggarakan kuliah online. Dikatakannya, bila kuliah online ini diterapkan akan menjadi saingan berat bagi kampus-kampus yang hanya menyelenggarakan perkuliahan tatap muka.
“Banyak kampus kecil yang membuka kuliah online hingga diikuti oleh ribuan mahasiswa,” kata Cecep dalam kuliah umum di Kampus IAIST, Kampung Melayu, Jakarta Selatan, Sabtu (7/3/2026).
Oleh karena itu menurut Cecep, perguruan tinggi mesti beradapatasi dengan perkembangan dunia digital. Sebab menurutnya, perguruang tinggi telah mengalami perubahan cepat dengan penggunaan teknologi digital tersebut.
“Kalau kampus tidak beradaptasi dengan dunia digital maka akan tertinggal,” ungkapnya.
Fakta di lapangan, lanjut Cecep, banyak perguruan tinggi sudah membuka pembelajaran dengan sistem jualan mata kuliah melalui platform online. Sehingga mahasiswa dapat membeli mata kuliah secara bebas dari satu kampus ke kampus lain.
“Mulai jualan mata kuliah misalnya dengan harga Rp50 ribu per mata kualiah, sehingga banyak mahasiswa yang akses,” lanjut Cecep.
Dia menjelaskan, dengan platform digital ini kampus telah bertransformasi menjadi pusat inovasi dan kolaborasi secara global. Sistem pembelajaran diarahkan pada proses pembelajaran digital. Terkait hal itu, kata Cecep, penguasaan literasi digital mahasiswa harus diperkuat.
“Pemanfaatan IA perlu kita dalami lebih jauh, sehingga perguruan tinggi dapat dipersiapkan menjadi perguruan tinggi digital sehingga proses perkuliahan menjadi lebih efisien,” jelas Cecep.
Namun Cecep mengingatkan, proses digitalisasi perguruan tinggi dengan transformasi digital ini tidak boleh meninggalkan peran dosen dan mahasiswa sebagai subyek-subyek belajar dan mengajar di perguruan tinggi. Dalam perkuliahan digital misalnya dengan menggunakan model Society 5.0, dosen dan mahasiswa seperti hadir dan aktif dalam proses perkulian atau pembelajaran di kelas. Sehingga antara dosen dan mahasiswa dapat berinteraksi secara aktif seperti di dalam kelas dalam perkuliahan tatap muka walaupun sebenarnya jarak mereka berjauhan.
“Proses pembelajaran digital ini tidak boleh meninggalkan aspek-aspek manusia dan kemanusiaan. Walaunpun dominan teknologi dalam proses belajar dan mengajar, etika dosen dan etika mahasiswa harus tetap terjaga,” kata Cecep.
Dalam kesempatan itu, Rektor IAIST Dr. Suherman mengatakan, kampusnya cukup kompetitif dengan kampus-kampus lain di Jabodetabek. “Kampus IAIST ini cukup bagus, sama dengan kampus-kampus yang lain di Jabodetabek,” kata Suherman dalam sambutannya.
Menurut Suherman, IAIST merekrut calon-calon mahasiswa dari kalangan baik dari kalangan kurang mampu secara eknomi maupun calon mahasiswa yang secara ekonomi cukup mampu untuk memasuki perguruan tinggi. Selain itu, kampus IAIST juga merekrut calon mahasiswa cukup mampu kuliah baik tingkat kecerdasan maupun yang terlambat dalam proses belajarnya.
“IAIST menyiapkan juga beasiswa bagi para calon mahasiswa yang memang sungguh-sungguh ingin melanjutkan proses belajar di perguruan tinggi,” katanya.
Saat ini, IAIST telah memiliki 3 Fakultas dengan membuka beberapa program studi diantaranya; Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Hukum Keluarga Islam, dan Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Selain itu IAIST berusaha beradaptasi dengan dunia digital. Perkuliahan di kampus IAIST sudah mulai menggunakan platform digital. Tujuannya untuk membuka peluang seluas-luasnya kepada calon mahasiswa untuk dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
“Kampus IAIST membuka seluas-luasnya akses dan kesempatan kepada seluruh calon mahasiswa baik dari Jabodetabek maupun dari luar Jabodetabek,” katanya.





