Oleh: Dr. Dewi Tenty SH, MH, MKn*
Channel9.id-Jakarta. Tahun 2026 diawali dengan memanasnya konflik di Timur Tengah, sebagai pemicu lonjakan harga energi, juga mengganggu rantai pasok global yang berimbas pada naiknya biaya produksi serta distribusi bahan pokok. Situasi ini berimbas pula pada Indonesia, sebagai negara impor berbagai komoditas bahan baku seperti gandum, kedelai, susu bahkan plastik untuk kemasan semuanya mengalami kenaikan harga yang sangat signifikan.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mendapatkan pasokan gandum sebagai bahan dasar industri tepung terigu (hasil olahan biji gandum untuk produk mi, roti, kue dan camilan lainnya) yang diimpor dari beberapa negara seperti Australia, sebagai negara pemasok terbesar karena jarak geografis yang dekat, Kanada yang terkenal dengan gandum berkualitas tinggi untuk bahan baku roti premium, Ukraina menjadi salah satu sumber gandum terbesar untuk industri pangan dan pakan ternak, Amerika Serikat sebagai pemasok gandum jenis tertentu untuk kebutuhan industri pangan spesifik dan Rusia yang ikut menjadi alternatif pasokan gandum global bagi pasar Indonesia. Belum lagi produk lain seperti kedelai sebagai bahan baku produsen tahu dan tempe (Indonesia mengimpor kedelai terutama dari Amerika Serikat lebih dari 85% kebutuhan impor nasional selain dari Kanada, Argentina dan Brazil. Ditambah naiknya harga plastik untuk kemasan sampai dengan 30 – 100% yang tentunya sangat berimbas pada harga penjualan produk.
Belum redanya isu konflik Timur Tengah, Indonesia kembali dihajar oleh isu melemahnya rupiah terhadap mata uang asing. Kembali lagi produk UMKM yang paling rentan terkena dampak kenaikan dolar sebagai akibat ketergantungan pada bahan baku impor (gandum, kedelai, serta bahan kemasan plastik). Hal ini memicu membengkaknya biaya produksi, menipisnya margin keuntungan dan memaksa pelaku usaha untuk menaikkan harga.
Melihat situasi seperti ini, beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pelaku UMKM untuk menghadapi pelemahan daya beli masyarakat yang bisa diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Mengubah Kemasan Plastik
Sektor flexible packaging (plastik kemasan kualitas tinggi) yang masih bergantung pada material impor mengakibatkan lonjakan harga bahan plastik membuat biaya operasional meningkat tajam, kemasan untuk produk sayur dan buah-buahan dapat diganti oleh daun pisang, hal seperti ini sudah sering dilakukan di Thailand dimana gerai-gerai di supermarket sudah mempergunakan daun pisang sebagai pembungkus pengganti plastik, dan untuk produk selain sayuran dan buah-buahan bisa menggunakan kertas daur ulang, untuk produk fashion fungsi plastik bisa digantikan dengan kertas daur ulang sebagai pembungkus (kemasan primer) dan karton sebagai kemasan sekunder.
2. Resize Produk;
Kesulitan menaikkan harga di saat ini dapat disiasati dengan mengurangi size atau volume dari produk makanan dan minuman, tidak menyiapkan stok berlebihan untuk mengurangi kemungkinan barang kadaluarsa karena tidak terjual dan kembali ke sistem pre-order untuk memastikan barang terjual setelah di produksi.
3. Optimalisasi media online untuk promosi dan penjualan (tidak melalui toko).
4. Jejaring Resseler
Selain untuk meningkatkan promosi dan marketing resseler juga dapat membuka peluang usaha kepada tenaga kerja yang saat ini banyak mengalami PHK.
*Penggerak UMKM
Baca juga: Menkop Apresiasi Buku Dewi Tenty, Jadi Rujukan Penguatan 80 Ribu Kopdes





