Channel9.id, Jakarta. Rusia kembali mendorong narasi kemenangan di medan udara dengan mengklaim berhasil menembak jatuh jet tempur F-16 milik Ukraina pesawat yang sejak awal digadang-gadang Barat sebagai “game changer” bagi Kyiv. Namun, klaim tersebut hingga kini belum disertai bukti visual maupun konfirmasi independen, sehingga masih berada dalam ranah perang informasi yang intens antar kedua kubu.
Pernyataan itu muncul dalam siaran di televisi nasional Russia 1 pada Minggu. Dalam program yang dipandu jurnalis pro-Kremlin Vladimir Solovyov, seorang komandan pertahanan udara Rusia dengan nama sandi “Sever” menyebut sistem rudal S-300 milik Moskow menjadi penentu.
“Ini target paling menarik yang pernah kami hadapi,” ujar Sever, dikutip media pemerintah Rusia, Senin (12/1/2026). Ia mengklaim dua rudal dilepaskan ke arah F-16: tembakan pertama merusak badan pesawat, sementara rudal kedua “memberikan pukulan akhir”. Tidak ada penjelasan waktu maupun lokasi kejadian, dan pihak Rusia tidak menyertakan dokumentasi visual atas klaim tersebut.
Narasi tersebut muncul di tengah intensitas adu propaganda yang terus berlangsung sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Selama hampir empat tahun, medan perang bukan hanya ditentukan oleh peluru dan rudal, tetapi juga oleh informasi dan persepsi publik tentang siapa yang unggul.
Ukraina sendiri mulai mengoperasikan F-16 pada Agustus 2024 setelah proses lobi panjang ke negara-negara NATO dan Uni Eropa. Jet tersebut disuplai oleh Belanda, Denmark, dan Norwegia, dengan total 87 unit dijanjikan dan sekitar 44 unit sudah diterima menurut laporan Business Insider.
Kyiv sebelumnya telah mengakui kehilangan beberapa F-16 dalam misi tempur, namun belum memberikan komentar terkait klaim terbaru Rusia tersebut. Di sisi lain, pemerintah Ukraina disebut tengah membuka opsi penguatan armada udara melalui pembelian tambahan dari Prancis, menyusul intensitas serangan Rusia di berbagai front.
Klaim terbaru Moskow ini pun muncul dalam momen sensitif—di mana kedua pihak berlomba menunjukkan kemampuan militer mereka kepada publik global sembari mempertahankan dukungan eksternal. Tanpa verifikasi independen, kasus ini berpotensi menjadi episode lain dalam perang narasi yang semakin mengaburkan fakta di medan tempur.





